Mati sadar agar bisa melanjutkan evolusi

0 Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Mati Sadar

Mati sadar berarti cara mati yang tepat. Mati sadar berarti kita meninggalkan dunia ini dengan penuh kesadaran. Sadar bahwa kematian merupakan keniscayaan. Kemudian juga harus memahami juga: ‘Sesungguhnya kematian itu apa?’

Dengan menyadari bahwa kematian adalah suatu proses yang harus dijalani, maka kita kita tidak menjadi cemas saat menghadapi kematian. Bahkan kita bisa mempersiapkan dengan baik bekal apa saja yang kita butuhkan.

Bekal yang dibutuhkan

Kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Kematian tubuh kita tidak akan membuat kehidupan di dunia ini berakhir. Kehidupan dunia akan terus berlangsung. So, kematian bukan lawan kata hidup tetapi lawan kata kata lahir.  Pemahaman ini yang mesti kita jadikan bekal untuk menghadapi kematian.

Kita juga harus paham atau sadar bahwa sesungguhnya tidak titik henti setelah mati. Yang kita tinggalkan adalah tubuh di dunia ini. Tetapi yang menghuni tubuh tidak mati. Ibarat kendaraan mobil. Mobil rusak harus ditinggalkan oleh sang pemilik atau sopir/driver. Hal ini tidak beda dengan komputer sebagai hardware dan perangkat lunaknya (software).

Inilah yang disebut pengetahuan sejati.  Pengethuan sejati berarti menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah sebagai pengulangan.

Lantas bekal seperti apa yang kita butuhkan?

Dengan pengetahuan sejati tersebut, bagi mereka yang telah memahaminya akan semakin sadar bahwa sesungguhnya kita semua terhubung oleh sesuatu yang abadi yang berada dalam setiap makhluk. Hidup selaras dengan alam berarti kita tidak saling menyakiti. Karena sadar bahwa ada sesuatu yang satu dan sama dalam diri setiap makhluk.

Berbuat kebaikan

Banyak orang berpikir bahwa kita berbuat kebaikan dan berbuat kebaikan selama hidup, termasuk saya dahulu. Namun sesungguhnya berbuat kebaikan pun menjadi beban saat roh meninggalkan badan. Ya selama ini Jiwa invidu yang merupakan percikan Sang Maha Jiwa ingin mengembara ke dunia untuk mengalami ciptaan Nya.

Jiwa individu seharusnya sebagai pengendali, tetapi karena kebingungannya sendiri, Jiwa yang bingung ini terjebak  oleh alam pikirannya sendiri sehingga lupa untuk pulang. Bagaikan seorang yang pergi mengembara atau menginap di hotel kemudian lupa pulang. Lucunya saat harus pulang, ia ingin membawa barang-barang hotel. Ia lupa bahwa barang hotel adalah milik hotel, dan tidak boleh dibawa.

Pikiran kita yang selalu mengenang hidup di hotel dunia telah membuat Jiwa individu atau Jiwa bingung selalu ingin kembali menikmati pengalaman tidur di hotel. Berbuat kebaikan pun akan menjadi suatu keterikatan bagi sang Jiwa untuk menyatu kembali ke Sang Sumber Agung. Inilah Mati Sadar.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 + 3 =

Scroll Up