Mengapa kearifan lokal nusantara berorientasi ke Sindhu atau India??? (Bag. 1)

0 Inspirasi | Jurnal | Pengembangan Diri No Comments

Selama ini, banyak peninggalan kakawin atau sastra di lontar atau prasasti leluhur menunjukkan bahwa tulisan mereka berorientasi ke India,wayang misalnya. Atau pun sastra yang dituliskan pada lontar kuno. Sebagai contoh adalah buku Dvipantara Dharma Sastra (Kebijakan Kuna Nusantara untuk Masa Kini) yang dituliskan oleh Anand Krishna.

Dalam buku tersebut ada 3 naskah kuna dari daerah yang berbeda.

Naskah pertama Sara-Samuccaya atau kumpulan Nilai-nilai Kebajikan Utama yang dituliskan oleh Bhagavan Vararuci dalam bahasa Devanagari/Sanskrit. Sebagaimana tertuliskan dalam buku Dvipantara Dharma sastra, Bhagavan Vararuci bukan orang asli India atau Sindhu. Ini tampak dalam gaya bahasa penulisan. Artinya, beliau adalah orang nusantara asli. Naskah ini masih dipakai sebagai acuan hingga saat ini di Bali.

Buku atau Naskah ke dua adalah Slokantara-Ayat-ayat Kebajikan yang dituliskan pada akhir Majapahit, sekitar abad XIV – XV.

Naskah ke tiga bernama Sevaka Dharma, Kitab Sunda tentang Kehidupan dan Kematian.

Dalam Pembukaan buku Dvipantara Dharma Sastra, Anand Krishna menuliskan:

 Ini adalah sebuah pustaka mulia yang bersifat terbuka, dan harus saya tambahkan, sebuah pustaka mulia tentang kehidupan yang ditujukan untuk setiap orang. Sang Penggubah Bijaksana yang namanya pun tidak diketahui, telah menuliskan sekitar abad ke 15 atau ke- 16 dalam bahasa Sunda Kuna, bahasa klasik manusia Jawa Barat di Kepulauan Indonesia. Itu saja yang diketahui.’ 

Yang menarik adalah yang saya juga setuju sebagaimana dituliskan oleh Anand Krishna, 

‘ Baik Sara Samucaya maupun Slokantara memuat anjuran-anjuran luhur terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Ke duanya berlandaskan prinsip-prinsip dasar yang sama, yang mana berasal dari Peradaban Sindhu, Shn-tu, Hindu, Hindia , Hindies, Indies, Indo – satu-satunya peradaban kuno di dunia yang tidak hanya masih eksis, tetapi masih berkembang terus.’

Disinilah yang menarik. Mengapa tulisannya berorientasi pada Peradaban Sindhu?

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 − 9 =

Scroll Up