Mengapa Saat Bersembahyang Mesti Menutup Mata???

Sembahyang atau berdoa mesti merem. Mengapa. Dalam suatu kitab suci disebutkan bahwa Tuhan berada lebih dekat dari urat leher manusia. Dengan kata lain, tiada keterpisahan antara Tuhan dan manusia. Jika tiada keterpisahan, mungkinkah kita berdoa atau sembahyang atau shalat membuka mata?

Saat kita membuka mata, kita melihat barang disekitar kita. Begitu melihat barang , pikiran kita mulai bekerja. Kita tidak lagi fokus untuk melakukan dialog dengan Tuhan yang berada dalam diri kita

Kita sering lupa bahwa energi kita hampir 70 persen terserap mata. Energi pikiran. Saat membuka mata, pikiran mulai bekerja. Semua keinginan, iri hati, cemas, cemburu, cinta, dan lain – lain emosi bermula dari mata. Dengan kata lain, ada keterkaitan erat antara mata dan pikiran.

Pada hal, sembahyang adalah kebutuhan manusia untuk berdialog dengan Tuhan. Kita perlu sering bergaul dengan Tuhan. Tuhan sebagaimana disampaikan oleh Baginda Rasulullah SAW berada di dalam hati hamba Nya yang beriman dan bertaqwa. Jika kita yakin akan sabda beliau, kita tentu berupaya berdialog dan mohon petunjuk Nya. Lantas untuk apa masih membuka mata?

Yang lucu adalah pertanyaan yang mengatakan bahwa saat menutup mata, pikiran semakin kuat. Segala macam pikiran muncul saat menutup mata. Alhasil kita tidak bisa fokus berdialog dengan Tuhan yang berada dalam diri. Artinya, kita masih dikuasai pikiran. Kita masih berhamba atau diperbudak pikiran. Kita belum sadar bahwa pikiran dan otak adalah perangkat untuk mengenal Tuhan. Dengan kata lain, kita belum kenal Tuhan. Kita belum berhamba kepada Tuhan. Kita masih menuhankan pikiran.

Jika demikian, kita telah berbohong pada diri sendiri bahwa selama ini kita mengatakan bahwa kita sudahn,enyembah Tuhan. Terbukti, kita tidak mampu menutup mata ntuk berdialog dengan Dia yang bersinggasana dalam diri kita. Inilah kondisi kita. Kita ternyata belum juga sadar segala sesuatu ang disabdakan Baginda Rasulullah SAW. Kita masih budak setan pikiran.

Selama ini kita selalu mencari pembenaran dengan mengatakan si A, B, sampai si Z sesat. Padahal, kita sendiri yang dalam keadaan sesat. Kesesatan menguasai hati kita sehingga Tuhan tidak bisa bersinggasana.

Siapa yang meletakkan Tuhan di dalam hati? Kita sendiri lah yang bisa meletakkan Tuhan dalam hati. Bukan orang lain. Nah jika demikian, kita sendiri yang mesti berupaya agar Tuhan bersinggasana dalam hati. Sesungguhnya, Dia sudah ada. Hanya kemudian, nafasu keinginan duniawi menguasai hati. Akibatnya, keberadaan Dia tertutupi oleh keinginan berkuasa atas harta dunia dan orang lain.