Al Israa 107 : Katakanlah “Berimanlah kamu kepada Nya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan (ilm) sebelumnya apabila¬†Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.”

Buku Meditasi dan Yoga Terbaik

  • Dapatkan Buku Meditasi Terbaik Untuk Pemula [Beli Buku]
  • Dapatkan Buku Yoga Terbaik Untuk Pemula [Beli Buku]
  • Dapatkan Buku Yoga Sutra Patanjali [Beli Buku]

Al Israa 110 : Katakanlah : “Serukan Allah atau serukanlah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlkah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah kamu merendahkannya dan carilah jalan tengan di antara ke duanya”

Ke dua ayat tersebut mengingatkan kita supaya kita tidak menghakimi iman seseorang. Qur’an mengatakan Allah tidak berkurang karena kekafiran kita dan tidak bertambah karena iman kita. Ia tetap Maha Besar.

Mereka yang “berilmu” tahu dan bersujud. Maksud ilm disini adalah knowingness bukan sekedar knowledge atau ilmu pengetahuan. Ilm adalah “pengetahuan berdasarkan pengalaman pribadi”. Iman adalah hasil dari pengalaman pribadi. Amal adalah penerapan ilm dan iman seperti itu, applied knowingness dan faith. Pertanyaannya adakah kita memiliki ilm dan iman seperti itu? Pernahkah kita mengalami Tuhan? Atau kita baru sekedar berpengetahuan lewat buku, ceramah dan lain sebagainya? Jika kita memiliki pengalaman pribadi, maka Qur’an jelas sekali, kita tidak akan mempersoalkan sebutan, Allah, Rahman “atau nama yang mana saja”.

Sementara ini kita masih mempersoalkan nama, sebutan, bungkusan. Kita belum masuk ke dalam isinya. Baca kembali ayat2 ini, firmanNya jelas sekali, ketika shalaat pun jangan “keras”, dan jangan terlalu “pelan”. Berarti, hindarilah ekstremitas. Jika dalam shalaat pun dianjurkan menghindari ekstremitas, maka betapa tidak dalam segala urusan lainnya! Kita menjadi ekstrem karena belum ber-tauhid.

Tauhid berarti Ialah Awal Akhir dan Tengah. Ialah semuaNya. Maka untuk apa ekstrem kanan, u/apa pula ekstrem kiri? Dimana kita berada disanalah, disinilah Allah. Para ekstremis adalah pengikut dualitas. Ekstremitas lahir dari paham dualitas. Para ekstremis belum memamahi tauhid. Mulai sekarang, kita coba mempraktekkan ayat2 yang indah ini, kita kirimkan pemahaman kita ini kepada beberapa teman yang beda agama, sambil mengucapkan dengan penuh keyakinan, Allahku juga adalah Tuhanmu. Kita semua sedang menujuNya lewat jalan yang beda. Aku yakin semua jalan menujuNya. Teman, aku cinta kamu, kita saudara. Dan, aku menghargai “jalan”mu. Jalan-ku dan jalan-mu sama baiknya karena sama-sama mengantar kita pada Ia yang Maha-Baik.