Mimpi….

0 Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Selama ini saya mengira bahwa hanya dalam tidur suatu mimpi terjadi, tetapi dalam kehidupan sehari-sehari ternyata terjadi. Mimpi adalah suatu yang tidak nyata, definisi umum begitu. Namun semakin tua, saya semakin bingung. Apa yang dimaksudkan dengan nyata atau tidak?

Nyata menurut pandangan umum dikatakan bisa disentuh. Tetapi yang bisa disentuhpun ternyata tidak nyata. Nyata berarti ada terus, tetapi adakah sesuatu yang tidak berubah? Saat kita tertidurpun kita merasakan sesuatu yang nyata. Ada seseorang yang bermimpi dikejar macan atau harimau saat tidur. Saat bangun ia merasakan jantungnya masih berdetak dan keringatan. Bukankah saat kita terjaga kemudian kita dikejar macan juga jantungnya berdetak lebih kencang serta keringat saat lari dari kejaran harimau?

Yang lebih lucu ketika kita tidur, kemudian bermimpi yang menurut pendapat masyarakat merupakan pertanda buruk. Saat bangun pagi, kita terus memikirkan mimpi semalam kemudian dikaitkan dengan pendapat orang lain. Saat menjadi kenyattas yang kita khawatirkan dari pertanda mimpi, kita mengamini. ‘Wah benar juga pertanda mimpi buruk. Kenapa ini bisa terjadi? Kebetulan?

Jika kita mau jujur, sesungguhnya yang mewujudkan mimpi menjadi kenyataan adalah kita sendiri. Kondisioning yang diciptakan masyarakat kita setujui atau amini. Saat kita meng-amini pendapat umum masyarakat yang berkaitan dengan mimpi, tanpa sadar kita telah meng-amini bahwa hal tersebut akan terjadi. Ingatlah bahwa kita juga turut mendukung pendapat masyarakat.

Kita mesti ingat juga, suatu hal bisa terjadi bila kita menyetujuinya. Sebaliknya, bila kita menafikan yang di-amini orang banyak, mimpi yang sesungguhnya hanya sebagai kembang tidur tidak akan menjadi kenyataan. Jika mimpi tersebut kita anggap sebagai kembang tidur, kita kemudian melupakan, maka tidak terjadi sesuatupun.

Kita harus tetap mengingat bahwa dunia tempat kita berada saat ini adalah ciptaan sendiri. Coba kita ingat ketika kita suka pada seorang wanita yang saat ini jadi istri. Bila saat itu kita tidak meneruskan rasa suka kita, apakah dunia keluarga dengan segala permasalahannya terjadi? Tentu beda dunia ciptaan kita. Misalnya kita pilih wanita lainnya. Anak yang keluar dari rahim istri kita beda. Dan cerita yang terjadi pada anak kita sekarang tentu juga berbeda. Tentu juga dengan keluarga istri.

Demikian juga dengan dunia tempat kita bekerja. Dari sekian banyak dunia, kita yang menciptakan. Dan semuanya adalah alam dari impian kita. Atau dunia impian.

So, bila kita tidak meng-amin-kan yang kondisioning yang disetujui oleh masyarakat, maka mimpi tinggallah mimpi. Hanya kembang tidur.

Kehidupan yang kita lakoni saat ini tidak sepenuhnya bentukan kita. Kita masih dibawah pengaruh kondisioning masyarakat. Kita belum terbebaskan dari pendapat masyarakat luas. Untuk meyakini suatu kepercayaan saja harus mengikuti pendapat umum. Ini yang kemudian membuat kita hidup menderita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 − 3 =

Scroll Up