Pantaskah hidup dibuat serius???

2 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri 2 Comments

‘Kegelisahan dan kekuatiran kita membuktikan bahwa kita menganggap hidup terlalu serius; sementara, mungkin saja dunia ini diciptakan untuk kesenangan belaka, untuk hiburan bagi Hyang Pencipta dan segala ciptaan-Nya’ 

(This is Truth That too is Truth by Anand Krishna, www.booksindonesia.com)

Kekuatiran dan kegelisahan berasal dari pikiran. Melihat dan mendengar sesuatu, gugusan pikiran dan perasaan (mind) kita mulai menimbang. Semua landasan didasarkan ego dan standart lingkungan kita. Semua ditimbang berdasarkan lingkungan sekitar. Kita menilai diri kita atas dasar pandangan orang lain. Pada hal belum tentu orang lain memperhatikan kita. Terutama di lingkungan yang beru pertama sekali kita hadir.

Saat kita berada pada kesadaran luar atau tubuh, kita merasakan kegelisahan dan kekuatiran. Gelisah karena tidak dianggap oleh orang lain. Kuatir karena kita tidak dihormati oleh orang lain. Sesungguhnya lah kita saat itu membudakkan diri terhadap lingkungan kita. Kita bergantung pada penilaian lingkungan. Tuhan kita adalah sekitar kita. Tampaknya hal ini sangat umum kita alami. Pada umumnya, kita masih menjadi budak penilaian lingkungan.

Saat hal di atas terjadi, kita menganggap hidup begitu serius. Sedikit saja tersinggung, kita marah. Kita terlalu sensitif. Saya ingat cerita seseorang yang menderita schizophrenia, suatu penyakit yang selalu berpikir berlebihan. Melihat seseorang berbicara berbisik-bisik saja, ia merasa bahwa orang tersebut sedang membicarakan dirinya. Penyakit paranoid. Jika kita bandangkan, sesungguhnya kehidupan kita pada umumnya tidak berbeda jauh dengan orang yang kita sebut memiliki penyakit schizophrenia, hanya kadarnya berbeda. Jenisnya sama.

Jika kita memperhatikan hewan burung, mereka berkicau dengan ceria. Mereka memuji kebesaran Nya. Mereka begitu riang ceria memuji keindahan alam serta mensyukuri kehadirannya di bumi yang indah. Jika kita bisa memahami hal ini, besar kemungkinan memang dunia ini diciptakan untuk kesenangan belaka. Dunia sebagai panggung hiburan bagi Hyang Pencipta dan segala ciptaan Nya.

Dengan menganggap bahwa Tuhan Sang maha Pencipta sebagai sandiwara, besar kemungkinan bahwa dunia diciptakan sebagai panggung hiburan Nya. Bukan kah kita pergi ke gedung bioskop menonton film juga mencari hiburan? Kita menonton konser lagu dan tari untuk menghibur diri kita. Kita tidak akan pergi ke tempat hiburan untuk mencari kesedihan. Kita mencari hiburan karena beban kepedihan yang ada dalam diri kita. So, panggung hiburan diadakan untuk hiburan.

Jika kita bisa mengalihkan kesadaran kita dari kesadaran tubuh yang berperan sebagai pemain menuju ke sadaran jiwa atau sejati sebagai penonton, maka kita akan bisa mengalihkan perhatian dari kegelisahan dan kekuatiran menjadi suka ria. Bukan kah tiada seorang pun yang bisa mengalihkan atau shifting kesadaran kecuapli kita sendiri. We are the decision maker for ourself.

Jika kita mampu melakukan hal tersebut, kita bisa berdiri sebagai saksi atas kejadian semua pada diri dan sekitar kita……

‘Kehidupan tidak lain adalah sebuah permainan; tetaqpi ingatlah bahwa ada peraturan tertentu dalam permainan. Seseorang hendaknya sekaligus, secara serius dan secara main-main, berpegang pada aturan-aturan tersebut untuk menikmati permainan kehidupan. 

(This is Truth That too is Truth by Anand Krishna)


  1. mrandroid - September 19, 2016

    dalam keadaan sendirian dikamar mudah untuk menjadi “penonton” tapi begitu keluar atau bersosialisasi kenapa sangat sulit ?

    • Semakin sering anda melakukan inner journey semakin mudah memisahkan diri. Sebetulnya yang dirasakan lebih penting adalah kecepatan anda ‘on – off ‘. Jika anda bisa selamanya jadi ‘penonton ‘ dalam kurang lebih 21 hari tubuh anda terurai….
      Salam bahagia….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − 7 =

Scroll Up