Pemahaman tentang Suci

Suci

Suci bukanlah bersih. Suci adalah bebasnya hati dari keterikatan duniawi. Selama ini kita terjebak dengan pengertian yang salah tentang makna suci. Kebersihan hati dari keterikatan dunia membuat seseorang terbebaskan menyampaikan hal-hal yang tidak bermanfaat. Baik manfaat bagi diri sendiri atau lingkungan.

Dalam buku Bhagavad Gita bagi Generasi Y by Svami Anand Krishna, www.booksindonesia.com:

Memuja para dewa (menghormati dan melestarikan alam yang menunjang kehidupan); menghormati para bijak (yang senantiasa berupaya untuk hidup dalam Kesadaran Jiwa), para guru pemandu Rohani, mereka yang lebih tua, dan para suci yang telah lepas dari keterikatan duniawi; senantiasa memelihara kesucian diri; kejujuran, kemuliaan; pengendalian diri dan pengembangan kreativitas (brahmacarya); tidak menyakiti, melukai, atau melakukan kekerasan lainnya – semua itu atalha ‘Tapa Brata Ragawi’, badanai” (17:14) 

Banyak orang yang tidak mengerti tentang pemahaman kata ini sehingga membuat tulisan bahwa tempat tersebut disucikan. Padahal suatu tempat tidak bisa dikatakan suci selama pikiran orang yang melewati atau tinggal tidak bebas dari kemarahan atau hal yang mencemari pikirannya. Seharusnya bila kita membaca tulisan seperti itu, dengan sendirinya kita berupaya membebaskan diri dari kemarahan, kesombongan atau nafsu lainnya yang berkaitan dengan keterikatan duniawi.

Dewa

Pengertian dewa bukanlah sesuatu yang butuh dipuja, tetapi segala sesuatu kekuatan alam. Bukan suatu sosok. Segala sesuatu yang memiliki kekuatan alam seperti air, gunung, hujan, sungai, dan lain sebagainya. Inilah pemahaman budaya luhur nusantara, Samskriti Hindu.

Memuja para dewa berarti menghormati dan melestarikan alam yang menunjang kehidupan kita. Tanpa kita melakukan pelestarian alam, kita akan mengalami penderitaan. Dan agar kita memiliki visualisasi, maka kemudian dibuat patung. Tujuan dari pembuatan patung agar kita mudah fokus. Sangat sulit bagi manusia pada umumnya memuja sesuatu yang abstrak. So, memuja dewa seharusnya mengerti dengan apa yang dilakukan. Kita tidak minta sesuatu dari benda tersebut, tetapi simbol tersebut dimaknai sebagai sifat yang ada dibaliknya.

Misal lambang patung Ganesha, apa yang menjadi sifat gajah harus dikembang dalam diri kita. Sabar adalah sifat gajah yang bisa kita maknai; sifat ini yang harus kita tumbuhkembangkan dalam diri. Belalai panjang merupakan lambang atau simbol berpikir panjang, ini juga yang harus dikembangkan. Daun telinga lebar adalah lambang bisa mendengarkan dengan baik.

Bijak

Para Bijak berarti mereka berupaya hidup dalam Kesadaran Jiwa. Bijak bukanlah pandai atau pintar. Banyak orang yang memuja yang katana ‘bijak’ tetapi sering mengeluarkan kata-kata yang menyakiti atau merendahkan orang atau sesuatu. Orang-orang seperti ini belumlah memiliki atau bahkan jauh dari Kesadaran jiwa.

Kesadaran Jiwa berarti mereka yang memahami bahwa jati diri sesungguhnya adalah bagian dari Sang Maha Jiwa. Dia yang bebas dari keterikatan duniawi. Atau bahkan Dia yang menciptakan dunia sehingga tidak ada lagi pengertian tentang benda sebagai miliknya.