Pengaruh DMT pada Reinkarnasi

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Reinkarnasi

Reinkarnasi dipengaruhi oleh DMT. Perjalanan roh selanjutnya ditentukan oleh guyuran DMT saat kematian. Mari kita simak urain dari Buku Kearifan Mistisisme by Anand Krishna berikut ini:

“Guyuran DMT saat kematian menentukan

 perjalanan Roh selanjutnya.

Jadi bukan urusan kehidupan ini saja,

tetapi juga kehidupan berikutnya.”

Kejernihan Pikiran

Ketika roh melepaskan badan tanpa rasa sakit, tidak ada energi yang terboroskan, dan ia – roh – dapat berpikir secara jernih. Ia dapat menentukan sendiri: apakah perlu lahir kembali (reinkarnasi), tidak, atau belum. Jika ya, maka di mana, tujuannya apa, pelajaran baru apa saja yang ingin dipelajarinya.

Sesungguhnya, kita semua ditakdirkan untuk melewati masa transisi seperti itu. Sayangnya tidak selalu demikian, karena diri kita tidak siap.

Siapkan diri Anda sejak hari ini juga, maka pengalaman kematian bisa lebih indah daripada pengalaman terindah sepanjang hidup Anda di dunia ini.

 

Sahabat kita menjelaskan:

“Ketika Roh Merasa Bebas, ia bisa menentukan apa yang ‘terbaik’ untuk dilakukan dalam masa kehidupan berikutnya (Reinkarnasi). Saat itu intelgensia yang bekerja. Ia bisa memilah dan memilih yang ‘terbaik’ bukan bagi ‘diri’nya, tetapi juga bagi seantero alam. Karena dalam kebebasannya itu, ia merasakan kesatuan dan persatuan dengan semesta.

 “Sebaliknya, jika ia tidak merasa bebas, maka yang menentukan kelahiran berikutnya (proses reinkarnasi) adalah keinginan-keinginan dan obsesinya yang terpendam (Yang semuanya masih berada dalam wilayah lingkup gugusan pikiran serta perasaan ataumind. Mind, yang sebagaimana telah kit aulas secara rinci dalam Yoga Sutra Patanjali, dan Bhagavad Gita bagi Orang Modern yang baru saja dicetak ulang untuk kesekian kalinya, belum bertransformasi menjadi buddhi atau intelegensia).

Mati sadar/Tidak sadar

“Tidak terjadi pemilahan dan pemilihan, apakah keinginan dan obsesi-obsesi itu baik atau tidak dan membantu peningkatan kesadaran diri atau tidak. Misalnya, seseorang memiliki obsesi untuk menadi penyanyi atau pemusik rock. Jika ia ‘mati dalam ketidaksadaran’ karena guyuran DMT yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, maka obsesi dan keinginannya yang bekerja, dan ia lahir dalam keluarga di mana orangtuanya akan membantu dia mewujudkan keinginannya.

 “Tetapi, jika ia ‘mati dalam kesadaran’, maka intelegensianya memandu, ‘musik memang baik, tetapi frekuensi musikrock tidak membantunu, lahirlah dalam keluarga di mana kau akan memperoleh kesempatan untuk menekuni jenis musik yang dapat menunjang kesadaranmu.’ Atau, bahkan dipandu untuk memilih sesuatu yang lain sama sekali.

 Michael Jackson

“Musik rock berada pada frekuensi yang cukup rendah. Musik rock menarik kesadaran manusia ke bawah, pada dunia benda, pada segala sesuatu yang bersifat duniawi.

 “Ini yang terjadi pada Michael Jackson. Dalam kelahiran sebelumnya, ia memiliki obsesi untuk menjadi pemusik. Kemudian, obsesinya menentukan kelahirannya dalam keluarga yang tidak hanya mendukung dan membantu untuk merealisasikan obsesinya, tetapi juga ‘menjualnya’. Padahal, dalam kelahiran sebelumnya, Michael Jackson juga pernah mengalami spiritualtas, kendati tidak terlalu intens.

 “Setelah meraih sukses duniawi, sebagaimana telah Pak Krishna uraikan secara Panjang lebar dalam buku tentang Michael Jackson (The Gospel of Michael Jackcon dalam dwibahasa Indonesia dan Inggris) ia mengalami kebingungan yang hebat.

 “Rock tidak Menjawab Kebutuhan Jiwa. Kebutuhan Jiwa Michael Jackson pun tidak terpenuhi. Namun, ia tidak bisa memisahkan diri dari rock.Maka, hidupnya berakhir tragis.

 The Beatles

“Tidak demikian dengan kelompok Beatles. Setelah menyadari kebutuhan Jiwa, mereka membubarkan kelompok yang saat itu sedang di puncak kejayaan. Industry hiburan mentertawakan keputusan mereka, tetapi mereka tidak peduli.

 “Setelah pembubaran itu, karya mereka secara terpisah memiliki warna yang beda. Bahkan, beberapa saat sebelum bubar pun karya-karya George Harrison dan John Lennon sudah memiliki warna yang berbeda dari warna sebelumnya.

Bakat Anak 

“Bakat musik muncul dan dapat dilihat dengan jelas ketika seorang anak masih balita. Saat itu, sebaiknya orangtua yang sudah berwawasan spiritual mengarahkan anaknya ke musik yang dapat membantu Jiwanya.

 “Sebagian orangtua merasa bahwa anak-anak mesti dibiarkan mengembangkan sendiri potensinya. Dalam hal ini, ada kesalahan persepsi. Potensi seorang anak sebagai musisi dan penyanyi memang mesti didukung. Itu adalah potensinya.

 “Tetapi Jenis Musik Bukan Potensi. Jenis musik adalah pilihan. Barangkali seorang anak memiliki potensi sebagai pengusaha, pedagang. Baik. Potensi tersebut perlu didukung, tetapi apakah ‘berdagang senjata’ mesti didukung juga? Apakah memperdagangkan badan manusia mesti didukung juga? Apakah usaha pelacuran perlu didukung? Jelas tidak. Demikian juga dengan jenis musik yang tidak menunjang perjalanan Jiwa tidak perlu didukung.

 “Tentunya advis ini tidak berlaku bagi mereka yang tidak memiliki wawasan spiritual. Mereka tidak perlu membaca buku ini. Untuk apa?

 “Siapa yang berhak melarang mereka jika memang ingin mengembangkan rock atau musik jenis lain yang lebih keras lagi? Tidak ada yang dapat melarang mereka. Sebagaimana kita tidak dapat melarang para pedagang senjata dan tidak bisa menghentikan pabrik rokok atau minuman keras.

 Wawasan Orangtua

“Orangtua yang Berwawasan Spiritual bertanggung jawab untuk mengarahkan anak-anak mereka pada jalur yang akan membantu perkebangan Jiwa.

 “Orangtua yang sudah kenal spiritual dan masih memahami hal-hal seperti ini, ketika anak-anak mereka masih kecil, masih di bawah 14-15 tahun, sebetulnya sangat beruntung karena anak dan remaja seusia itu masih bisa diarahkan.

 “Kalau seorang anak sudah berusia di atas 14-15 tahun, maka sulit diarahkan. Karakter mereka sudah mulai terbentuk.

 “Memang tidak selalu mudah untuk mengarahkan seorang anak, walau masih kecil atau remaja—kadang keinginan dan obsesi mereka dari kehidupan sebelumnya sangat kuat. Tetapi, bagaimana pun juga orangtua mesti tetap berusaha. Itu kewajiban orangtua, tidak perlu memikirkan hasilnya.

 “Selain itu, sesungguhnya, seperti yang ada juga diakui oleh para Neurosaintis, proses wiring atau semacam pembentukan/ penataan otak manusia berjalan hingga usia 30an tahun. Jadi; jika memang ada keinginan dan ditunjang oleh pergaulan—maka hingga usia 30-32 tahun karakter manusia masih bisa ditata.”   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen + nineteen =

Scroll Up