Penggunaan Energi Kehidupan salah arah

0 Inspirasi | Kesehatan | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Energi Kehidupan

Energi Kehidupan atau Life Force atau Bayu tidak digunakan secara tepat, maka akan berubah menjadi cair; ‘air mani’. Nah sebagaimana sifat cairan, ia akan mengalir ke bawah. Bila kumpulan cadran ini semakin banyak, selanjutnya mendorong si manusia terbawa untuk memburu kenyamanan indrawi.

Dalam buku Dvīpāntara Dharma Śāstra bagian 3 Sevaka Dharma by Anand Krishna:

Ketika Bayu, atau Energi Kehidupan diarahkan secara salah (untyk melakukan hal-hal yang tidak luhur), maka ia akan berubah menjadi banyu atau air, dan mengikuti alur alaminya menghanyutkan seseorang ke alam kehidupan yang lebuh rendah. Demikian pula, kata-kata yang salah atau jahat yang diucapkan sesungguhnya adalah api neraka itu sendiri.

Penggunaan Tepat

Mau tidak mau, kita harus kembali ke tujuan utama kelahiran. Menjadi manusia atau dengan kata lain: ‘Mengembangkan Kemanusiaan; menjadi manusia seutuhnya. So, kita semua dibekali energi kehidupan yang harus digunakan secara tepat; memelihara alam semesta. Oleh Baginda Rasul disempurnakan sebagai Rahmat bagi sekalian alam.

Bila energi kehidupan ini digunakan untuk melayani alam semesta, ia akan menguap ke atas; selanjutnya menjadikan sang pemilik menjadi manusia mulia sebagaiman kodratnya sebagai Khalifah atau penguasa diri sendiri. Banyak orang salah memaknai akan arti Khalifah. Bukan untuk menguasai atau menjadi raja di luar, tetapi menjadi raja bagi diri sendiri.

Jadi Banyu 

Yang dimaksudkan menjadi banyu adalah menjadi ‘air mani’. Menarik juga.

Pesan yang luar biasa dari leluhur kita. Mereka sangat memahami proses alami dari terjadinya dorongan syahwat yang bisa membawa manusia ke jurang penderitaan yang amat dalam. Banyak sekali kita mendengar cerita tentang kisah cinta yang berujung kebahagiaan. Tetapi pernahkan kita mendengar kisah setelah perkawinan?

Bila energi kehidupan yang mendasari manusia bisa hidup dan berkarya tidak diarahkan secara tepat, tetapi malahan digunakan untuk mengikuti syahwat indrawi, misalnya makan enak yang tidak menunjang kesehatan Jiwa, maka makanan tersebut tidak bisa mendorong evolusi kesadaran. Mengubah intelektual menjadi intelejensia. Karena makanan yang menunjang kesehatan bathin akan mendorong seseorang untuk bergaul pada lingkungan yang tepat; sebagaimana tujuan utama kelahiran manusia.

Pergaulan yang salah atau kuran tepat akan memicu keburukan dari dalam diri kita. Kita tilak akan lahir di bumi ini bila tidak membawa beban kesalahan masa lalu.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × two =

Scroll Up