Pengkultusan

0 Filsafat | Kesaksian | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Pengkultusan

Pengkultusan, suatu kata yang selama ini telah diberikan konotasi negatif. Yang parah lagi, karena kurangnya pemahaman, seseorang yang telah menyebarkan kebajikan telah dipenjarakan atau dihukum oleh masyarakat.

Konotasi negatif ini telah berlangsung sangat lama, bakhan sekarang pun masih disalahpahami. Padahal, merekan yang menyalahpahami pun tanpa sadar telah melakukan sistim pengkultusan pada golongan atau kelompoknya. Dalam anggapan golongan yang menuding pihak lain yang tidak disukai melakukan hal sama dianggap mendewakan.

Akar Kata

Kata dasar dari pengkultusan adalah kultus. Kultus dari kata ‘culture’ atau kultur. Dengan kata lain sesungguhnya makna pengkultusan bagi yang memahami dianggap sebagai pembudayaan. Budaya bermakna dari kebiasaan-kebiasaan yang baik. Dalam hal ini, kebaikan yang tepat.Tepat ini bermakna bagi banyak orang. Sementara itu, kata budaya pun telah mengalami distorsi.

Kata culture dari bahasa Latin yang berarti ‘menjaga, merawat, dan menghormati’ So, pembudayaan bermakna menjaga dan merawat agar terus tetap dalam keadaan baik. Misalnya: Pembudayaan pikiran berarti merawat dan menjaga pikiran agar tetap hanya digunakan untuk hal-hal baik.

Kedangkalan

Kedangkalan cara berpikir kita telah menyeret kita pada situasi yang semakin kisruh atau kacau. Dalam keseharian banyak ditemui akibat piciknya cara pandang kita. Ini terjadi karena kita tidak bisa mengendalikan emosi atau perasaan. Rasa tidak suka atau kebencian ini terbentuk oleh pergaulan.

Cara pandang yang dangkal atau sempit membuat kita tidak memiliki pendirian. Ini disebabkan karena kita selalu fokus atau melihat ke bagian luar. Kita lupa ada sesuatu yang sangat berharga di dalam diri kita; kebahagiaan. Kita selalu memburu pada kepuasan atau kelegaan sesaat. Kita membudakkan diri pada kenikmatan indrawi.

Kegelisahan

Pada umumnya orang sejatinya dalam kegelisahan. Kegelisahan terjadi karena kita terikat pada sesuatu yang tidak langgeng; selalu berubah. Rasa bahagia sejati terjadi bila kita bisa mengakses rasa terdalam pada diri kita. sesuatu yang tidak tergoyahkan oleh perubahan di luar diri.

Kenikmatan indrawilah yang membuat kita menderita. Untuk menggapai kebahagiaan sejati, kita haruslah yang selalu mengikatkan diri pada seseorang yang telah mengakses sumber kebahagiaan sejati, Dan karena kita begitu patuh dan mengikuti segala petunjuknya, dianggap pengkultusan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − ten =

Scroll Up