Percaya Diri (Bagian 4)…

Lapisan ke empat disebut sebagai Vagyanmaikosha, lapisan intelegensia atau Buddhi.

Upaya manusia sepanjang hidup mengubah atau mentransformasi lapisan intelektual menjadi intelegensia.Inilah tujuan utama keahiran manusia. Saat manusia bisa melakoni kehidupan selaras dengan alam, ia berada dalam lapisan intelegensia. Buddhi masihbukan lah akhir perjuangan atau usaha manusia dalam kehidupan ini, namun merupakan awal untuk memasuki lapisan terdalam, Kesadaran Murni. Kesadaran jiwa.

Hambatan utama adalah ketertutupan diri. Intelektual kita yang takut terbunuh oleh perkembangan intelegensia. Karena intelektual berkaitan dengan untung rugi. Berkaitan erat dengan ego. Selama ini kita masih mengidentifikasikan ‘diri’ dalam ranah intelektual. Segala sesuatu dihitung berdasarkan kepentingan golongan, kelompok, dan diri. Sama sekali belum menyasar ke arah kepentingan umum atau universal.

Kita seringkali lupa pada intisari agama: ‘Perlakukan orang lain sebagaimana dirimu ingin diperlakukan’ Semua agama menyatakan hal yang sama. Hanya dalam kalimat berbeda. Ego pikiran, ‘diri’ yang mengidetifikasi pikiran masih penuh dengan keangkuhan bahwa paling benar adalah dirinya. Yang menyedihkan dalam berkeyakinan pun demikian.

Pemahaman yang berkembang sekarang adalah toleransi. Seakan sudah paling baik. Pada hal, kata toleransi ini masih dalam ranah ego atau intelektual. Dalam pemahaman kita saat memberikan arti toleransi berarti masih menganggap bahwa keyakinan kita terbaik. Sedangkan keyakinan atau kepercayaan orang lain masih kurang daripada keyakinan kita.

Apresiasi memberikan makna yang setara. Menghargai berarti memberikan kedudukan yang sama terhadap keyakinan atau kepercayaan kita. Bisa di analogikan dengan kalimat: ‘Keyakinan yang aku anut tidak lebih baik daripada keyakinanmu.’ Inilah apresiasi. Saat seseorang berani menyatakan demikian, ia sudah masuk ke ranah intelegensia. Pola pikir yang selaras dengan alam. Bukan kah alam juga memiliki sifat saling bersinergi? Semoga pola pikir yang demikian semakin berkembang menuju kedamaian dunia.

Memang dalam realitanya ada korelasi yang sangat erat antara lapisan energi, prana maikosha, dengan lapisan pikiran. Saat pikiran berpikir negatif atau tidak tepat, maka lapisan energi pun kacau. Semuanya dalam suatu kesatuan tak terpisahkan, namun secara pribadi setiap insan bisa melakukan deteksi dini, pada tataran manakah ia berada. Tidak perlu orang lain melakukan penilaian terhadap dirinya.

Suatu cerita yang menarik sebagai berikut,

Pada suatu ketika seorang teman bercerita. Ia memiliki toko terapi holistik. Suatu hari, seseorang datang tergopoh-gopoh dan minta tolong, ia mengalami penderitaan yang amat sangat. Dan teman saya pun membantu sehingga mengalami kesembuhan. Setelah sembuh, orang tersebut berbincang dengan teman saya sebagai ungkapan terima kasih. Sampai akhirnya orang tersebut tahu, siapa pemilik toko tersebut.

Ketika ia mengetahui siapa sesungguhnya pemilik toko, ia berkata bahwa jika pada awalnya ia tahu bahwa si pemilik toko adalah orang tersebut, ia tidak akan masuk ke dalam toko tersebut. Namun, setelah teman saya menjelaskan segala hal yang selama ini sesungguhnya ia tidak tahu, pada akhirnya ia berbalik menghormati si pemilik toko. Ternyata selama ini, ia hanya terpengaruh kata orang. Kemudian pikirannya melakukan rekayasa yang mendiskreditkan si pemilik toko tersebut. Seperti inilah kerja ‘diri’ yang mengidentifikasikan diri sebagai pikiran. Pikiran menjadi tuan si manusia.

Di atas segalanya, tanpa adanya pikiran seseorang juga tidak berguna. Pikiran menjadikan kita bisa memahami sesuatu. Gunakan pikiran secara bijak. Masih ada sesuatu yang di atas pikiran. Dengan kata lain, pikiran pun harus dilampaui.

Selama setiap orang masih dalam kesadaran mind atau manas, pikiran intelektual, selama itu pula dunia jauh dari harapan damai. Namun sepertinya, itu juga kehendak Sang Maha Jiwa Agung sang sutradara alam semesta. Agar kita tidak terjebak dalam permaian Nya, mari kita urus diri masing-masing. Kita bantu diri masing-masing menghindarkan diri dari permainan ilusi Nya. Dia lah sang maha ilusi.

Pada lapisan kesadaran ini pun bisa saja suatu ketika kita tergelincir ke bawah karena kita belum masuk ke lapisan yang melampaui dualitas.

Sulit??? Memang…. Hanya dengan jalan ini kita bisa selalu bersandar dalam melakoni kehidupan ini…

Dengan membiasakan diri mengingat akan hali ini, kita berharap akan menjadi laku yang bernafaskan kemuliaan… Tidak ada sesuatu terjadi secara instant…

Repetitif dan intensif. Itulah rumusan menuju kemuliaan…..

To be continued…….