Permainan Ilusi atau maya Tuhan………

0 Meditasi No Comments

Boleh saja menipu orang lain dengan pergi ke rumah ibadah. Boleh saja melakukan ritual sembahyang ribuan kali sesuai anjuran agama. Boleh saja menghujat orang lain sesat. Boleh saja anggap agama sendiri paling baik, dan agama orang lain pasti masuk neraka. Boleh saja temannya satu iman keyakinan milyaran manusia….

Namun……….

Itu semua hanya anggapan pikiran sendiri. Semua anggapan bahwa dirinya sudah sesuai kitab suci yang dipercayainya paling baik dan benar tidak bisa menjamin bahwa dirinya bebas dari hukum alam. Selama kualitas pikiran belum memiliki sifat sebagaimana sifat alam, pikirannya tetap tidak bisa tenang. Ketenangan yang diperolehnya semata ketenangan semu.

Ketenangan semu terbukti ketika masih saja dirinya menyalahkan orang lain. Ia pikir sudah benar berkiblat terhadap kata orang, menurut kitab ini dan itu. Selama ia masih ingkar dari hati nurani, ia tetap menderita. Ia telah ingkar dari kitab sucinya sendiri. Ia lupa bahwa dalam kitab suci ada ayat bahwa Tuhan tidak jauh dari urat leher setiap manusia. Ia tidak mau bertanya pada dirinya sendiri. Ia lupa berdialog dengan Tuhan yang sesungguhnya tidak terpisahkan dari dirinya. Inilah hati yang tertutup. Hati manusia munafik yang tertutup.

Manusia yang semacam ini sesungguhnya penyembah berhala kitab suci. Ia bukan penyembah Tuhan. Mereka takut terhadap sesama tetapi tidak takut terhadap Tuhan yang ada dalam diri sendiri. Ia hanya cari pujian dari sesama. Ia senang dikatakan sebagai ahli surga oleh sesama yang juga tidak faham makna ucapannya sendiri.

Semua yang dilakukan semata hanya tampilan luar. Hanya atribut luaran yang berguna untuk kehidupan dunia namun tidak bagi kebebasan sang jiwa. Ia hidup dalam ketakutan tidak punya teman di dunia. Ia lupa saat kematian tiba, semua dukungan dari teman di dunia lenyap. Ia mesti bertanggung jawab sendiri. Boleh saja dukungan teman di dunia milyaran jumlahnya, namun segala ucapan, pikiran, serta perbuatan hanya diri sendiri yang menanggung jawab.

Hidup bagaikan impian teman. Di alam mimpi, anda boleh merasa banyak dukungan dan sanjungan. Saat badan tiada, dukungan badan lenyap. Yang ada kita berhadapan dengan akibat perbuatan kita. Tiada sorak sorai pujian. Sang jiwa akan meminta pertanggung jawaban, apakah kita telah berupaya membebaskannya dari belenggu atau penjara pikiran yang selalu berkiblat pada fisik?

Selama di dunia hanya memikirkan hal – hal yang bersifat fisik, maka sang jiwa tetap terbelenggu. Dan harus kembali ke dunia maya. Dunia ilusi. Inilah permainan Tuhan…….

Selama kita senang permainan ilusi Nya, selama itu pula kita mesti kembali ke dunia ilusi. Dunia permainan yang bersifat maya. Dunia ciptaan kita manusia sendiri. Bukankah semua tang ada di sekitar kita ciptaan manusia juga? Boleh anda menyebutnya sabda Tuhan atau kata nabi. Namun jika itu masih berwujud benda kasar berarti masih ciptaan manusia. Semua berasal dari pikiran manusia. Dan sebagaimana Rumi pernah katakan, semua pasti punah. Sang jiwa berada di atas ilusi permainan maya. Bersandar pada ciptaan pikiran manusia tidak bisa membebaskan sang jiwa…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + nine =

Scroll Up