Rasa bahagia bukanlah surga

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Rasa Bahagia

Rasa bahagia adalah hak atau pilihan orang per orang. Seorang bijak atau utusan-Nya bisa tidak butuh surga. Karena mereka bisa merasakan kebahagiaan ketika bisa memybanu orang lain. Mereka memahami tujuan utama kelahiran: bebas dari rasa takut.

Banyak di antara kita yang pernah mendengar Rabiah, Jalaludin Rumi, Bulleh Shah, dan lainnya. Mereka bisa berkata bahwa surga untukmu wahai yang membutuhkannya. Mereka amat sangat sadar bahwa surga dan neraka hanyalah kondisioning pikiran. Sedangkan rasa bahagia adalah keadaan yang diciptakannya sendiri. Dengan berkarya berbagi pengetahuan sejati. Para suci yang telah menerapkan pengetahuan sejati dalam keseharian dalam bentuk pelayanan. Melayani Tuhan dengan melayani Kemanusiaan dan Masyarakat. Inilah pelampauan mind.

Surga

Banyak sudah dari kita mengerti bahwa ketika seseorang memburu surga pastilah diiming-imingi dengan segala kenikmatan yang berkaitan dengan indrawi. Segala hal yang dikaitkan dengan surga dapat dipastikan berkaitan erat dengan kenyamanan idrawi. Dengan kata lain, mereka yang memburu untuk mendapatkan surga tentulah belum selestai dengan segala hal yang berkaitan dengan kenikmatan badaniah.

So, surga masih berada di ranah pikiran dan Perasaan atau mind. Para suci sudah melampaui mind. Mind masih berupa materi. Masih berurusan dengan kenyamanan badaniah.

Banyak penelitian membuktikan bahwa mereka yang bisa merasakan kebahagiaan adalah mereka yang bisa membahagiakan sesama.

Sesama?

Siapakah sesama kita?

Kearifan lokal Bali mengenal Tri Hita Karana: Pelemahan, Pawongan, dan Parahyangan. Tiga hal yang membuat manusia bahagia.

Palemahan berarti menjadi pelindung/pengayom yang lemah: Hewan, tumbuhan serta lingkungan. Hewan lemah tetapi bukan berarti Kita Bisa menikmati daging mereka untuk memuaskan kenikmatan lidah. Dengan menyembelih hewan sesungguhnya kita juga menciptakan bencana. Banyak bukti penelitian bahwa untuk menjadikan 1 ons daging steak banyak air dibutuhkan.

Pawongan berarti sesama manusia. Ya, kita harus hidup saling mengasihi dan mengapresiasi

Sedangkan Parahyangan berarti Tuhan Hyang Maha Tunggal, termasuk yang lebih tinggi atau lebih tua. Dengan melakoni Tri Hita Karana kita bisa hidup dengan bahagia. Untuk melakoni Tri Hita Karana kita harus hidup dalam pelayanan. Inilah rasa bahagia yang melampaui mind/pikiran dan Perasaan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × 1 =

Scroll Up