Rasa cemas terhadap kematian

0 Filsafat | Inspirasi | Kesehatan | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Rasa cemas

Benarkah kita memiliki rasa cemas terhadap Kematian?

Kebanyakan tidak. Sebenarnya orang lebih memiliki rasa cemas bila tidak bisa masuk surga. Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari yang dikejar kenikmatan surga. Tentu surga sebagaimana definisi yang ditanamkan sejak kecil. Dan celakanya, pemahaman surga pada umumnya selalu dikaitkan dengan kenyamanan indrawi.

Dan rasa cemas dibentuk oleh golongan orang yang belum memahami pesan suci para nabi dan mereka yang memahami pengetahuan sejati. Pengetahuan sejati adalah pengetahuan yang membebaskan manusia dari rasa cemas. Ya, rasa cemas dapat diperoleh ketika seseorang bisa melakoni kematian selagi masih hidup.

Kematian mitos

Kita anggap yang disebut mitos adalah sesuatu yang tidak ada. Sesungguhnya, kematian pun demikian. Kematian merupakan mitos. Tubuh kita lah yang mati. Tetapi Kematian bukanlah titik akhir. Yang terjadi adalah perubahan. Bila dikatakan mati adalah perubahan, selama tubuh ini di dunia, sebenarnya sudah terjadi kematian beberapa kali. Ya, Kematian adalah mitos. 

Kematian pasti?

Dalam keseharian, secara tidak langsung kita menganggap kematian adalah suatu mitos. Ini terbukti bahwa sampai usia tua pun yang dikejar masihlah kenikmatan indrawi; termasuk mengejar surga pun sesungguhnya yang dikejar hanyalah kenikmatan badaniah. Bidadari, sungai susu dan minuman keras. Segala hal yang tidak diperbolehkan di bumi sangat didambakan setelah mati.

Bukan Tuhan

Ya, tanpa kita safari pengeruh kuat lingkungan kita mendorong kita sema kin jauh dari Tuhan yang kita puja. Pernah kah kita merenungkan sejak bangun pagi yang kita pikirkan dapat dipastikan masalah kenyamanan indrawi. Sedikit pun kita tidak memiliki sense of urgency tentang Kematian atau ketiadaan tubuh. Kita anggap selamanya kita tidak mati.

Rasa cemas terhadap mati kehidupan setelah tubuh sirna tidak kita miliki. Sejak bungun Hagi pikiran kita tidak pernah memikirkakn kepentingan umum. Kita selalu memikirkan diri sendiri. Inilah ego; dan saat itu kita bukan pengabdi Tuhan. Dan realitanya adalah bahwa kondisi pikiran kita seperti tu.

Kita penyembah berhala sejati. Silahkan baca ini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 5 =

Scroll Up