Rasa Takut menghilang rasa kemanusiaan

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Rasa Takut

Rasa takut dimiliki oleh banyak orang secara umum. Ini merupakan hal yang wajar. Namun demikian sesungguhnya hal ini belum mencerminkan bahwa kita telah menjadi manusia. Padahal tujuan utama keberadaan kita lahir di bumi adalah untuk menjadi MANUSIA, manurbhava

Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita belum jadi manusia?

Beberapa hari terakhir ini, kita membaca berata bahwa ada beberapa orang meninggal, tetapi ada Sebagai warga menolak orang yang meninggal akibat Covid 19 denga alasan akan menularkan terhadap yang hidup. Yang lebin menyedihkan adalah ketika seorang perawat meninggal karena tertular sebagai konsekuensi pekerjaannya, tetapi masih ditolak warga karena rasa takut ketularan. Padahal, di beberapa negara Eropa dan juga China peralta dan dokter mendapatkan penghargaan sebagai Pahlawan.

Intisari Agama

Banyak orang mengaku agama, tetapi belum memiliki sifat keberagamaan. Intisari agama adalah jangan menyakiti siapa saja. Bisa juga disarikan dengan: ‘Perlakukan sesamamu sebagaimana dirimu ingin diperlakukan‘. Dengan demikian, kita tidak memperlakukan orang lain semena-mena bila kita mau diperlakukan sama.

Dan bila kita mengaku beragama hanya sebagai identitas diri berarti kita belum melakoni agama. Dan akibatnya kita hanya pamer ritual belaka. Dengan kata lain agar kita dianggap orang baik karena telah melakukan ritual agama. Kita belum masih berada pada sifat Tamas atau sifat malas pada info grafia di bawah ini:

Dengan melakoni intisari agama dalam kehidupan, semestinya kita sudah pada level terakhir Chart di atas; Layani dan Kasihi semua.

Rasa takut berlebihan menunjukkan bahwa kemanusiaan kita hilang. Kita masih pada level kehewaniahan. Salah satunya: Panik dan Cemas, menyalahkan orang lain. Ini hanyalah bukti bahwa ‘Saya paling baik….’ Ini juga menunjukkan sifat paling rendah ‘Tamas’ atau malas melakukan introspeksi diri.

Wajah Tuhan

Sebagaimana dipesankan di semua kitab suci peninggalan para suci; ‘Lihatlah Wajah Tuhan di Barat, di Timur dan di mana-mana. Dengan melakoni pesan ini, kita sadar bahwa ‘Ayat Tuhan berada di setiap sudut alam ini’ Alam inilah perwujudan ILAHI

Dengan kata lain bahwa hanya dengan menghargai dan mengasihi sesamalah kita dinyatakan sudah melakoni keberagmaan Bukan PENYEMBAH AGAMA.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 × 2 =

Scroll Up