Sadar Kemahahadiran Tuhan

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Kemahahadiran Tuhan

Menyadari Kemahahadiran Tuhan tidak sama dengan beriman pada Tuhan. Mereka yang sadar akan Kemahahadiran Tuhan akan terus berupaya melakukan hal-hal yang tidak bertentangan dengan sifat keilahian; kasih. Perbedaan yang nyata terjadi pada sikap.

Dari buku This is Truth That too is Truth by Anand Krishna: 

Beriman pada Tuhan adalah satu hal, menyadari kemahahadiran Tuhan adalah hal lain,. Iman pada Tuhan atau sifat – sifat ilahi tertentu bisa saja berdasarkan sistem kepercayaan tertentu, sedangkan menyadari kemahadiran Tuhan berdasarkan pada pengalaman pribadi seseorang.

Jika iman Anda membutakan diri Anda akan suramnya kenyataan hidup dan tidak menyebabkan Anda berkarya untuk mengubahnya, maka iman Anda tidak ada gunanya. Anda tidak akan mampu menghadapi tantangan hidup, atau berpegang lama pada iman semu palsu tersebut.

Iman berarti percaya, dan pada umumnya mereka yang mengatakan percaya bukan atas dasar pengalaman sendiri. Mereka diberitahu oleh seseorang atau hasil dari membaca buku, kemudian mereka mengatakan percaya. Dan besar kemungkinan bisa mengalami perubahan. Bahkan ada sebagian orang yang ketika berhadapan dengan realita kehidupan, rasa percaya tersebut hilang.

Hal ini banyak terjadi di lapangan atau sekitar kita. Ada yang Katanya beriman pada Tuhan, tetapi ketika menghadapi bencana atau tantangan kehidupan akan menyalahkan Tuhan. Katanya Tuhan sedang mencobanya. Bila kita benar-benar beriman, maka kita percaya penuh atau yakin bahwa Dia akan selalu membahagiakan. Dia selalu benar dan maha berkah, kesalahan yang mengakibatkan terjadinya bencana atau cobaan pada dirinya adalah karena ulahnya.

Maha Hadir

Sedangkan bagi mereka yang memiliki pengalaman dalam berbagai keadaan kemudian menyelami kehidupan bisa memahami ada suatu hukum yang bekerja secara otomatis di alam ini. Hukum sebab-akibat. Dan ini sudah dibuktikan melalui rumusan matematika. Kemahahadiran Tuhan yang mendasari terjadinya hukum ini.

Hukum ini bukan hanya berlaku bagi materi, tetapi juga sudah ada dalam semua kitab yang ditinggalkan oleh para suci, nabi, avatar atau mereka yang tercerahkan. ‘Perlakukan orang lain sebagaimana dirimu ingin diperlakukan’

Inilah hukum aksi-reaksi. Bola yang kau lempar akan memantul ke dirimu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nine + 9 =

Scroll Up