Senang berbagi bukti kekayaan

0 Filsafat | Kesehatan | Pengembangan Diri No Comments

Senang berbagi

Ya, mereka yang dengan senang berbagi membuktikan dirinya sebagai hartawan sejati. Sebaliknya mereka yang kikir semakin miskin. Leluhur kita telah memahami falsafah kehidupan ini. Dalam buku Dvīpāntara Dharma Śāstra by Anand Krishna dituliskan:

Nikmati apa saja yang kau miliki, dan berbagilah dengan mereka yang kurang beruntung — jangan sekali-kali menjadi orang yang kikir. Demikian, kekayaanmu tak akan perdah berkurang. Kekayaan justru berkurang karena tidak digunakan untuk kegiatan-kegiatan baik demi tujuan mulia.

Kekayaan tak berkurang

Para bijak telah membuktikan bahwa dengan senang berbagi kekayaan sedikit pun tidak berkurang. Hal terjadi karena denga berbagi sesungguhnya kita menangkupkatn tangan ke bawah. Memberi atau mengasihkan menunjukkan diri sebagai seseorang yang empati terhadap orang lain. Mereka merasakan penderitaan sesama, Oleh sebab itu dengan senang berbagi tinbul rasa bahagia.

Rasa cinta ketika berbagi akan menghidupkan bagian syaraf dalam otak kita. Kita selama ini kurang atau bahkan tidak sadar bahwa kecintaan dengan berbagi akan membuat otak kita semakin sehat. Banyak syaraf yang membuat otak sehat akan terhidupkan ketika kita senangberbagi dan berpikir baik dema semua makhluk. Berpikir baik dan mulia membuat otak menjadi sehat. Otak adalah perangkat keras bagi mind untuk mengekspresikan diri.

Senang Berbagi

Dengan senang berbagi juga dari sisi pandang The Law of Attraction akan menarik kekayaan jiwa, bahkan mungkin juga kekayaan harta dunia semakin melimpah. Dalam sejarah kehidupan ini, jarang sekali kita melihat seorang suci atau mereka yang membagikan pengetahuan sejati mengalami kemiskinan bendawi. Ingatlah yang pernah disampaikan Isa: Raihlah Tuhan, maka harta benda duniawi akan melimpah. Sangat sederhana memahaminya, bukankah Tuhan sebagai pemilik harta duniawi?

Kikir bukti kemiskinan dan penderitaan

Semakin kaya semakin kikir. Istilah ini sudah bukan rahasia lagi. Mereka yang sema kin kaya hartanya akan semakin susan untuk berbagi. Mereka anggap semua yang diakuka adalah usahanya. Mereka lupa akan hukum sebab akibat. Segala sesuatu yang kita peroleh dan nikmati saat ini merupakan akibat dari sebab masa lalu. Dan bukan tanpa sebab seseorang dengan mudah meraih kekayaan. Karena sesungguhnya Dia memeberikan kekayaan duniawi untuk melanjutkan perjalanan sucinya, emningkatkan kesadaran untuk menuju penyatuan dengan Dia.

Sayangnya, penyakit lupa akan tujuan utama kelahiran telah menjangkiti dirinya. Ia jatuh dalam kemiskinan batin. Ia hidup dalam penderitaan. Semakin kikir seseorang semakin menderita. Inilah keterikatan pada benda yang tidak abadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen + seventeen =

Scroll Up