Sengkuni

Sengkuni

Dikisahkan dalam kisah Mahabharata. Seorang yang sangat licik dan suka mengadu domba, ia memiliki nama Sengkuni atau Sangkuni. Tidak asing bagi penggemar wayang orang ataupun wayang kulit. Kisah wayang Mahabharata bukanlah fiksi, cerita yang sungguh terjadi. Jika kita mau belajar dari sejarah, lisas seperti ini tidak akan terulang lagi. Namun realitanya, dalam kehidupan sekarangpun ada seseorang yang memiliki sift seperti Sengkuni.

Orang tersebut ada dan sangat dikenal. Ia mulai dikenal sangat lama. Ia orang yang bersuara besar. Merasa paling suci dan benar. Ia bukan orang sembarangan, sayang ucapan serta perbuatannya sembarangan alias ngawur. Hanya mengacu pada kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan kepentingan yang baik bagi umum. Persis sama dengan yang dikisahkan dalam Mahabharata, suka mengadu domba. Mencari sensasi demi kepentingan diri.

 

Tua Buta

Banyak orang tua tetapi umur dari sisi bathin tidak juga tua alias tua buta. Semakin tua bukan semakin bisa membuka pandangan mata, tetapi sebaliknya semakin buta. Buta terhadap suatu kepentingan lebih besar. Orang yang secara fisik tua tetapi belum juga sadar akan kehendak Tuhan. Ia belum huga mau memahami bahwa Tuhan tidak memilih kasih terhadap ciptaan Nya. Ia tua fisik tetapi téta mem-buta-kan diri terhadap sifat Tuhan yang Tunggal. Tidak memilah dan memilih.

Sesungguhnya kebutaan seperti ini tidak perlu terjadi bila kita mau membuka diri. Keterbukaan diri hanya bisa terjadi bila kita mau menerima pergaulan secara terbuka pula. Ketertutupan kita terjadi karena kondisioning sekitar kita. Tiada waktu lain selain dalam kehidupan ini untuk melepaskan diri dari kondisioning bentukan lingkungan. Tanpa sadar kita di bawah perbudakan orang lain. Kita dibekali mata ke tiga untuk memilah dan memilih.

Mengubah ke-Sengkuni-an 

Sifat ini bisa diubah han aoleh yang bersangkutan ketika ia bisa melepaskan diri dari dogma kepercayaan. Data dinastia orang bertanya, ‘Mengapa hards leaps dari dogma kepercayaan?’ Karena dogma ini yang telah membentuknya menjadi slakan orang paling benar sendiri. Selama ia tidak bisa melepaskan diri dari pusaran energi yang membentuk dirinya, ia akan mendapatkan support terus dari kelompoknya.

Adanya energi dukungan dari kelompoknya membuatnya menjadi super ego. Bukan dalam arti kata positip, sebaliknya semakin menjauhkan dari keilahian dalam dirinya. Yang menjadi semakin parah karena usia yang semakin menua. Kinerja otak untuk berubah semakin menurun. Ibarat besi yang sudah lama terkena udara, berkarat. Semakin lama di luar semakin menguat karatnya.

Latihan yang dilakukan di Anand Ashram bisa mengubah cara pandang seperti ini. Latihan yang disusun berdasarkan pengalaman Svami Anand Krishna terbukti menjadi sarana atau katalisator yang mengubah cara pandang. Sebagai contoh bisa dilihat di artikel ini.