Sesungguhnya, Apakah Takdir itu???

Takdir

Takdir bukanlah satu harga mati yang tidak bisa diubah. Dalam buku Bhagavad Gita by Svami Anand Krishna, www.booksindonesia.com, dituliskan:

Berikut ini adalah 5 faktor penyebab karma atau unsur tersebut: Tempat Hunian Jiwa atau Badan; Penyebab segala perbuatan atau Gugusan Pikiran serta Perasaan; Pancaindra (Mata, Telinga, Hidung, Mulut, dan Kulit); Pancaindra Persepsi (Penglihatan, Pendengaran, Penciuman, Pengecapan, dan Perabaan); dan yang ke lima adalah Takdir, atau Hasil dari Karma yang Terakumulasi.

Penerimaan

So, ketika kita mengalami sesuatu kejadian yang kita anggap membuat kita menderita, kita seharusnya melakukan introspeksi diri atau perenungan sehingga kita bisa membuka diri agar bisa menerima. Penolakan terhadap kejadian yang membuat kita menderita akan semakin membuat kita terpuruk. Pikiran yang tertekan membuat tubuh tidak sehat.

Dengan menerima bahwa semua yang kita alami sebagai suatu akibat dari akumulasi perbuatan di masa lalu. Keluh kesah kita bahwa selama ini kita berbuat kebaikan membuat ego kita naik. Anggapan ini membuktikan bahwa kita berada pada masih berada level yang 5 faktor di atas. Padahal bila kita menganggap bahwa sang Aku bukan sebagai pelaku, kita telah keluar dari jebakan ego dunia. Sulit atau bingung?

Dosa asal

Anggapan bahwa kita sebagai manusia berdosa tidak akan membantu kita untuk menapak ke dalam diri. Dosa adalah suatu kesalahan sebagai akibat suatu perbuatan. Hanya berpikir buruk terhadap orang lain sesungguhnya kita sedang menciptakan akibat buruk terhadap diri kita. Pikiran buruk ini yang selama ini kita anggap dosa. Dengan menyadari bahwa pikiran buruk ini bisa melukai diri sendiri, kita berupaya memparbaikinya.

Yang kita sebut sebagai ‘Dosa asal‘ sebenarnya timbunan akibat dari sebab masa lalu. Ini yang kemudian berakumulasi menjadi takdir. Begitu kita lahir ke dunia, kita telah dibekali karma perbuatan masa lalu. Inilah sebabnya setiap orang berbeda nasibnya. Kita bisa belajar dari kejadian sekitar kita.

Kita sering atau mungkin kita mengalaminya sendiri. Tampaknya kita telah berbuat kebaikan saat ini, namun ada saja yang membuat kita menderita. Terimalah dengan penuh kesadaran bahwa hal ini sebagai akibat perbuatan masa lalu. Penerimaan tanpa mengaduh akan meringankan derita kita. Sebaliknya dengan menghujat atau tidak mau menerima keadaan ini akan dua kali menderita.

Penderitaan ganda

Ya, penolakan terhadap yang kita alami akan menciptakan penderitaan ganda.

Penderitaan pertama dari penolakan akan menutup pikiran jernih dari suatu pemahaman. Akibatnya pikiran menjadi sakit. Sakitnya pikiran akan berakibat organ dalam tubuh tidak bekerja secara normal. Akibatnya mudah diduga, tubuh menjadi sakit.

Penderitaan ke dua adalah kita tidak belajar sesuatu dari pengalaman kita. Bahwa segala sesuatu sebagai ulah sendiri. Dan yang harus memperbaiki adalah diri sendiri. Mencari kambing hitam dengan mengatakan bahwa penderitaan sebagai ujian dari Tuhan mendorong kita semakin menjauhi kesejatian Diri kita. Kita tidak memberdaya diri dengan mencari kambing hitam.