Setan? Itulah pikiran……..

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Setan

Tidak ada setan di luar diri. Dialah yang ada dalam diri kita; pikiran. Selama ini kita selalu saja mencari kambing hitam, panpa kita sadari bahwa sang kambing hitam pun telah habis. Bagaimana tidak habis, semua orang memburunya. Tetapi sesungguhnya ia tetap hidup abadi dalam diri kita.

Kita lupa bahwa jabatan setan pun telah dipindahkan ke pikiran kita. Ya, ia telah lama pensiun. Selama ini kita anggap dia sang kambing hitam adalah pelaku setiap perbuatan buruk yang kita lakukan.

Setan yang adalah pikiran

Petunjuk Bhagavad Gita

Dari buku Bhagavad Gita yang diuraikan oleh Mahareshi Anand Krishna:

“Berikut ini adalah 5 faktor atau unsur tersebut: Tempat Hunian Jiwa atau Badan; Penyebab segala Perbuatan atau Gugusan Pikiran serta Perasaan; Pancaindra (Mata, Telingan, Hidung, Mulut, dan Kulit); Pancaindra Persepsi (Penglihatan, Pendengaran, Penciuman, Pencecapan, dan Perabaan); dan, yang ke lima adalah Takdir, atau Hasil dari Karma yang Terakumulasi.”

Jiwa Individu sebagai percikan Sang Maha Jiwa adalah saksi segala perbuatan. Sang Jiwa Individu adalah pengemudi. Tubuh dan pikiran serta Perasaan merupakan alat yang digunakan oleh Jiwa Individu untuk mengalami ciptaanNya. Ya, Dia bagaikan seorang pencipta mobil atau teknologi yang ingin mencoba merasakan hasil ciptaannya.

Terjebak

Namun lucunya, karena sangat menikmati pengalaman mengendarai mobil ciptaanNya sendiri, Ia terjebak dalam kendaaraan, tubuh atau alam pikiran serta Perasaan sehingga ia melupakan identitas sejatinya sebagai saksi atau pengendara/sopir. Karena tidak ada sesuatu pun di alam ini yang bisa bergerak atau hidup tanpa keberadaanNya.

Saking asyiknya menikmati pikiran, ia terseret atau terlarutkan dalam alam kebendaan; pikiran. Ya, pikiran adalah materi. Mengapa?

Karena segala sesuatu yang masih bisa diucapakan/dijelaskan oleh kita masih di ranah materi. Pikiran kita mengalami dualitas; suka duka, sedih gembira. Memainkan kalkulasi untung rugi; intelektual.

Membunuh si Pelaku

Ya, selama ini kita selalu menuduhkan semua perbuatan buruk yang kita lakukan kepada si setan. Saking sibuknya mencari kambing hitam untuk melemparkan kesalahan dalam rangka pembersihan diri, kita menuduhkan semuanya pada si setan.

Kita lupa merenungkan bahwa segala ucapan dan perbuatan yang kita lakukan bermula dari kalkulasi perhitungan untung rugi; nikmat sengsara dari pikiran kita. Kita butuh kontemplasi untuk menyadari hal ini. Oleh karena itu, berikan pekerjaan pada si pikiran ini sehingga ia sibuk, dan kemudian lupa menghitung untung rugi. Ini beda antara intelejensia dan intelektual.

Nah tujuan kelahiran kita di dunia ini dalam rangka untuk memusnahkan atau membunuh si pelaku ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × four =

Scroll Up