Shatan –> Setan

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Dalam bahasa Ibrani ‘shatan’ berarti obstacle atau rintangan. Dalam bahasa Yunini diterjemahkan sebagai ‘diabolos’ yang berarti divider, pemisah. Awalnya, ‘shatan’ bukanlah makhluk, tetapi suatu keadaan jiwa, mental, emosi.

(Mawar Mistik by Anand Krishna, www.booksindonesia.com)

Ya sebagaimana definisi dalam bahasa Ibrani, ego manusia yang tidak selaras dengan sifat alam menjadikan manusia menderit. Namun, karena kemalasannya memperbaiki diri sendiri, maka manusia atau dalam hal ini mencari kambing hitam, setan sebagai sosok makhluk di luar diri. Kebanyakan manusia malas mencari kesalahan diri sendiri. Oleh karenanya diciptakan lah sosok di luar diri yang bisa disalahkan.

(Ketakselarasan) inilah yang menyebabkan penyakit hingga akhirnya kau mati. Semua itu terjadi karena tindakanmu pula yang telah menjauhkanmu dari Dia. Siapa yang punya telinga, harap mendengar!’

Keterikatan pada materi menimbulkan keinginan dan ketakselarasan dengan alam. Kemudian berbagai macam masalah pun muncul dalam tubuh.’

( Mawar Mistik by Anand Krishna, www.booksindonesia.com)

Alam tidak memiliki keterikatan. Kita terikat pada benda yang sesungguhnya tidak dapat kita miliki. Organ dalam tubuh yang benar-benar kita miliki, sebaliknya jarang kita sayangi. Kita anggap hal di luar itu bisa kita miliki. Benda di luar diri kita selalu datang dan pergi. Yang benar-benar tidak bisa tertinggal kemana pun badan kita pergi itulah sesungguhnya milik kita.

Pernahkah kita mengasihi milik kita? Sangat jarang. Kita selalu memburu yang tidak dapat kita miliki. Namun sebaliknya, kita lupa menyayangi milik kita sendiri. Kita bahkan sering menyiksa mata kita dengan pandangan yang buruk. Pandangan yang buruk berarti pemandangan yang tidak menunjang evolusi batin. Inilah bentuk kekerasan yang kita sering tidak sadari.

Kita mendengar gosip murahan. Tanpa kita sadari kita sedang menyiksa telinga kita. Kita berbuat kekerasan terhadap telinga kita. Bukan kah Tuhan membekali kita dengan panca indra untuk digunakan sebagai sarana meningkatkan kesadaran atau evolusi jiwa/batin? Tidak lah mungkin Dia memberikan kita bekal mata, telinga, rasa, lidah, dan hidung untuk yang menjadikan jiwa kita semakin terikat di dunia.

Hidung. Gunakan hidung untuk membaui yang indah dan menunjang kemuliaan jiwa. Ada suatu cerita yang menarik.

Suatu ketika, seseorang dioperasi otaknya. Tanpa disadari oleh dokter, sebagian syaraf penciuman terpotong. Orang ini selamat dari operasi otak, namun ia tidak bisa menggunakan indera penciumannya. Setalah operasi, orang tersebut semakin kurus dan kurus. Ia tidak ada selera makan. Setelah dilakukan penelitian, ia tidak lagi memiliki selera makan. Hal ini terjadi karena ia tidak bisa menggunakan indra penciumannya. Akibatnya, ia tidak memiliki rangsangan untuk membangkitkan selera makan. Begitu besar pengaruh indra penciuman terhadap nafsu makan seseorang. Seringkali kita mengabaikan hal ini. Kita lupa bersyukur terhadap besarnya pengaruh indra penciuman terhadap selera makan kita.

Gunakan seluruh panca indra kita untuk menunjang peningkatan evolusi jiwa. Inilah cara untuk membebaskan diri dari keterikatan. Dari ayat di atas jelas sekali bahwa keterikatan yang menimbulkan segala macam permasalahan. Dan akibatnya kita menderita. Keterikatan tidak selaras dengan alam. Dan keterikatan inilah yang juga menyebabkan kita sakit. Sakit tubuh, pikiran dan jiwa.

Kita begitu terikat pada istri atau kekasih. Seringkali kita berkata: ‘Tanpamu aku tidak bisa hidup.’ Benarkah??? Banyak sudah contoh bahwa ketika pisah pun, istri/suami bisa tetap hidup. Bahkan banyak para suami yang mengatakan demikian, akhirnya nikah lagi saat istrinya meninggal. Bukan kah dunia ini ilusi? Ilusi berarti sesaat ada sesaat lagi tiada. Kita hidup di dunia fatamorgana. Dunia yang abadi hanya ada dalam diri kita. Mengapa kita mau hidup abadi dengan bergantung ada yang tidak abadi?

Uang perlu dan butuh. Uang adalah energi. Namun bukan berarti kita tidak bisa hidup bahagia tanpa uang. Saat kita jadi budak uang, kita tidak akan bahagia. Kita terikat dengan uang. Ini sumber masalah. Keterikatan. Dan ini terjadi karena tiupan dari dalam otak kita sendiri. Sebagaimana dalam gambar dibawah ini, ‘Tiupan dari dalam diri. Bukan setan dari luar……….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one + 14 =

Scroll Up