Sibuk mengurusi orang lain.

Sibuk mengurusi orang

Ya sibuk mengurusi orang lain sehingga kita lupa urusan diri sendiri. Banyak diantara kita merasa bangga bisa membantu orang lain. Kita lupa bahwa kegelisahan kita terjadi karena kita banyak memperhatikan orang lain. Dunia ini akan damai bila kita fokus mengurusi diri sendiri.

Damai di dalam, di luar pun akan damai. Apa yang di luar merupakan cerminan dari dalam diri sendiri. Buruk di luar karena adianta keburukan dalam hati sendiri. Semakin banyak kita mengurusi orang lain atau mencari kesalahan orang lain berarti bah banyak hal buruk dalam hati sendiri.

Bijak berasal dari Kesadaran Jiwa

Mereka yang bijak tidak kan subuk mengurusi orang lain. Mereka sadar bahwa setiap orang dalam langkah menuju yang satu adanya, kesadaran jiwa. Tidak satu pun di antara kita yang tidak menuju ke arah satu dan sama. Hanya permainan Dia jua yang membuat orang cep atau lambat mencapai tujuan yang sama. Ingat… semua permainan Nya. Karena tanpa kehendak Dia, tidak ada satu benda pun yang bergerak.

Dan setiap zaman dan wake Dia sella mewujud dalam bentuk fisik untuk selalu mengingatkan tujuan kelahiran manusia. Hanya anggapan manusia jua yang menganggap bahwa Dia tidak mewujud untuk mengingatkan secara fisik. Ini juga karena kita hanya bisa berinteraksi secara fisik. Kadang karena kebodohan atau kita menganggap sudah hebat tidak mau mengakui bahwa Dia berbicara secara fisik. Menarik sekali…..

Dalam buku Bhagavad Gita bagi orang modern by Svami Anand Krishna, www.booksindonesia.com dituliskan:

Seorang bijak berkesadaran Jiwa, hendaknya tidak membingungkan gugusan pikiran serta perasaan (mindmereka yang masih belum menjadari hakekat dirinya; mereka yang masih terikat pada materi (dan hasilnya). Hendaknya mereka malah didukung untuk bertindak sesuai dengan tugas kewajibannya, dan ia (sang bijak) sendiri pun berkarya dengan kesadarannya.

Ketika seseorang menggapai kesadaran Jiwa, ia berada pad kondisi pemikiran di atas awan. Ketika kita melihat langit, awan selalu bergerak dan berubah. Inilah awan-awan pikiran yang selalu berubah. Ini yang mengakibatkan kita sibuk mengurusi orang lain.Seseorang yang berada pada kesadaran Jiwa hanya melihat yang tidak bergerak dan berubah, langit.

Ia sadar bahwa tidak satupun di alam ini yang tidak berubah. Kita merasakan kegelisahan karena kondisioning pikiran kita masih ada awan. Saat menusia sadar bahwa ia adalah langit, ia menyadari hakekat dirinya. Ketiadaan…..

Mengapa????

Pertanyaan ini selalu muncul bila tidak ada keterbukaan diri. Kita selalu terjebak pada apa yang sudah ditanamkan oleh masyarakat sekitar kita. Ketidakberanian untuk menarik diri ke dalam adalah penyebabnya.

Karena sesungguhnya semua yang ada di alam ini ada karena pikiran kita… Mungkin ada yang bertanya: Laut, air, baut dan hewan sera tumbuhan bukan ada karena pikiran manusia kan?

Tepat sekali… Oleh karena itu berubahlah agar memiliki sirat bagaikan alam. Bagaikan laut, matahari, bulan air serta benda alam lainnya. Maka kemudian kita berkarya tanpa keterikatan… Berkarya segabaimana sifat alam, berbagi….

Fokus melakukan perjalanan ke dalam diri dan berbuat tanpa melibatkan kepentingan pribadi serta tidak sibuk mengurusi orang lain. Maka duniapun damai…

Dunia kacau karena kita masih pada pola pikiran awan. Mungkinkah? Sangat mungkin. Para nabi dan suci adalah contoh nyata. Kemalasan kita untuk berubah adalah penyakit sejak lama dan Sudan berkarat……