Syukur energi tak terukur………………

0 Meditasi No Comments

Mudah sekali bicara bersyukur karena menerima sesuatu atau terpenuhinya harapan dari sesuatu yang diinginkan. Kelegaan yang dirasakan pada saat itu sering dianggap rasa bahagia. Namun sungguhkah demikian???

Dalam bahasa Indonesia dikenal syukur sebagai kata TERIMA KASIH. Menurut saya ungkapan kata syukur dalam bahasa Indonesia memiliki makna lebih dalam. Dan ini sangat Indonesia, sangat mewakili budaya luhur nusantara. Mungkin anda akan berargumen, apa bedanya? Saya dulu tidak memahami bagaimana sesungguhnya ungkapan syukur atas terkabulnya sesuatu.

Ketika suatu saat saya membaca tulisan dari Imam Besar Al Gazhali. Baru saya sadar bagaimana mengungkapkan rasa syukur. Bukan sekedar berucap ‘Alhamdulillah’ kemudian bersenang-senang atas terpenuhinya harapan. Lebih dari itu Al Gazhali mengungkapkan bahwa aplikasi rasa syukur harus berdampak positif kepada sesama.

Jika terjadi demikian, berarti kita juga memberikan rasa bahagia terhadap sesama lain atas rezeki yang kita terima. Dan pada akhirnya, rekan yang merasakan kesenangan dari ungkapan rasa syukur kita berucap: ‘alhamdulillah’.

Coba kita cerna dengan ekspresi Indonesia: ‘TERIMA KASIH’. Kita TERIMA sesuatu dari Tuhan melalui orang lain. Kita menerima dengan syukur. Dan sebagai ekspresi atau ungkapan rasa syukur atas sesuatu yang menyenangkan hati, kita KASIH kembali kepada orang lain sehingga orang lain merasakan juga rasa kesenangan sebagaimana yang kita terima.

Inilah falsafah yang sangat Islami, rahmattan lil alamin. Rahmat bagi semesta. Begitu tinggi falsafah TERIMA KASIH milik negeri tercinta. TERIMA dan kemudian KASIH (berbagi) kepada sesama. Leluhur kita di Palembang, kurang lebih 1000 tahunan yang lalu sudah lebih mendalami falsafah kehidupan ini. Bahkan mereka memaknai jauh lebih mendalam.

Adalah Guru Besar Dharmakirti yang menyebarkan ajaran ini. Sekarang ajaran ini dilestarikan di Tibet. Pendeta Agung Atisha yang membawanya ke Tibet. (Sumber: Atisha by Anand Krishna,www.booksindonesia.com). Ajaran tersebut dikenal sebagai meditasi TONGLEN. Dalam latihan meditasi tersebut secara ringkas dilakukan sebagai penyerapan hal-hal negativitas yang ada di luar diri,  kemudian di daur ulang oleh diri kita sendiri. Kemudian hasil daur ulang yang sudah bersifat positif disebarkan kembali ke lingkungan sekitar.

Sampai saat ini latihan meditasi TONGLEN ini masih dilakukan oleh Yang Mlia Dalai Lhama. Beliau sangat mengagumi ajaran nusantara ini. Sebagai pewarih agung ajaran nusantara, alangkah baiknya memahami hal ini. Dengan memahami syukur sebagai ekspresi TERIMA dan berbagi (KASIH) akan menimbulkan energi yang dahsyat. Energi ini akan mendaur ulang sifat-sifat keserakahan dan irihati yang melahirkan energi negatif.

Coba perhatikan setiap nafas. Bukankah setiap tarikan nafas akan diserap oleh paru-paru. Kemudian diserap jantung. Dan oleh jantung oksigen yang terkandung dalam darah dipompakan ke seluruh sel tubuh. Dan bertumbuhkembanglah sel-sel tersebut. Begitu setiap detik yang terjadi. Jika lebih dalam direnungi, bukankah hirupan nafas kita berasal dari hembusan nafas orang lain. Sehingga sesungguhnya kita bersaudara, karena nafas yang kita hembuskan akan dihirup oleh teman yang ada di sekitar kita. Demikian pula sebaliknya.

Kembali ke energi SYUKUR. Jika kita bisa mensyukuri dan mengekspresikan menjadi TERIMA dan KASIH. Segalanya menjadi indah. Dan akhirnya mengaburkan keserakahan dan irihati yang selalu menguasai hati. Berkembangnya rasa syukur akan menenteramkan hati serta pikiran. Kedamaian di pikiran kita akan menciptakan pulse atau detak yang normal. Rileksasi detak organ tubuh menciptakan kerja yang optimal. Hasilnya kesehatan akan jauh lebih baik.

So , tidaklah mengherankan jika seseorang yang sedang sakit bisa disembuhkan dengan terapi syukur atau TERIMA KASIH.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one + thirteen =

Scroll Up