Tema cerita panggung dunia masih sama. Pemerannya saja yang berganti….

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

You have been crying for help all these lifetimes, now when the help is around and available, you doubt it.

(Selama sekian masa kehidupan kau merintih dan menantikan bantuan.Sekarang, ketika bantuan itu ada, kau malah menyangsikannya)

(The Gospel of Mahamaya verse 245, by Anand Krishna, www.booksindonesia.com)

Banyak orang yang akan menyangkal bahwa yang namanya re-birth atau lahair kembali itu tidak ada. Itu kepercayaan orang kuno. Itu kepercayaan orang yang beragama Hindu. Agama atau kepercayaan yang menyembah banyak Tuhan atau politeis.

Benarkah Tuhan dan dewa sama?

Mari kita renungkan….

Ada yang disebut dewa dan ada yang disebut dewi. Artinya bahwa yang disebut dewa itu memiliki jender atau kelamin. Mungkin kah Tuhan yang Sang maha Pencipta berjenis kelamin???

Banyak orang di bumi nusantara atau wilayah India memberi nama Dewa dan Dewi pada anaknya. Tetapi sampai saat ini hanya satu orang yang bernama Tuhan. Ia tinggal di Banyuwangi. Silakan baca ini. Dengan kata lain, sesungguhnya banyak orang tidak percaya bahwa dewa=Tuhan.

Dewa atau deva mengacu pada kekuatan atau cahaya. Apa saja yang dianggap memiliki kekuatan adalah dewa. uang pun bisa dianggap dewa. Ketika seseorang menjilat atasannya demi jabatan atau harta, ia sudah menyembah dewa atau kekuatan. Ia menjadi penyembah berhala kekuasaan atau kekuatan.

Ini sebabnya dewa di negeri India dikaitkan dengan kekuatan alam. Dewa Indra adalah dewa matahari. Dewa Bayu adalah dewa angin atau yang menguasai angin. Dewa Ganesa adalah kekuatan ilmu pengetahuan. Jadi mereka yang menyembah dewa adalah penyembah kekuatan itu sendiri. Seseorang yang menyombongkan keointarannya sesungguhnya ia penyembah dewa Ganesha.

Sedangkan yang selama ini kita sebut Tuhan dalam berbagai tradisi tidak berjender. Ia tunggal adanya. Para pemeluk kepercayaan Hindu pun sesungguhnya tahu akan hal ini. Mereka juga penyembah Tuhan Yang tunggal adanya. Tidak beranak, dan berjender.

Banyak orang tidak percaya setelah mati tubuhnya, ia tidak akan lahir…

Benarkah???

Sebagaimana hasil peneltian bidang kedokteran, tubuh kita megalami regenerasi. Setiap 6-7 tahun setiap sel di tubuh kita mati dan diganti baru. Sedangkan yang tetap abadi dan ada terus adalah pikiran kita. Pembahasan lebih rinci akan hal ini bisa dibaca ini.Yang punah adalah tubuh. Sedangkan mind atau gugusan pikiran serta perasaan tidak punah. Karena mind kita hanya berisi masalah duniawi, maka sebelum keterikatan terhadap dunia beres atau usai, ia akan lahir dan lahir lagi.

Berkaitan dengan ayat di atas, jadi yang merintih dan menangis selama sekian kali kehidupan adalah roh. Roh ini terdiri dari gugusan pikiran serta emosi. Saat tearkhir kematian, seper sekian deti, atas kuasa Ilahi setiap orang diberikan evaluasi atas segala perbuatannya di bumi. Jika evaluasi itu menunjukkan nilai minus atau tidak sesaui dengan tujuan kelahiran, saat itu si roh menyesal. Penyesalan yang harus ditebus lahir kembali ke bumi. Karena kesalahan dibuat di bumi, maka pembetulan juga ditempat yang sama.

Berulang kali kita menangis minta pertolongan agar diberikan jalan sehingga sang jiwa bebas dari lekatan gugusan pikiran serta emosi. Namun berulang kali pula kita lupa. Lihatlah penggalan berikut ini:

Membaca ulang kisah Mahabharata, saya baru sadar bahwa dunia ini sebenarnya tidak pernah berubah. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya saja yang berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, panggungnya tetap sama. Ceritanya itu-itu juga. Perang dahsyat yang pernah terjadi di medan perang Kuruksetra masih berlanjut, masih terjadi, tidak pernah tidak, atau setidaknya belum berhenti. (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Perang disebabkan oleh Keserakahan. Selama manusia masih serakah, perang tidak dapat dihindari. Kita boleh saja bicara tentang kedamaian, kita boleh saja mengukuhkan undang-undang untuk kerukunan antar kelompok, tetapi selama keserakahan masih ada, persaingan dan kebencian akan selalu ada. Selama itu pula, perang dan kerusuhan tidak dapat dihindari.

 

Skenario keserakahan inilah landasan kisah Mahabharata. Kendati, Mahabharata tidak berhenti pada landasan tersebut. Lewat Bhagavad Gita, Mahabharata juga menawarkan solusi untuk memerdekakan kita dari belenggu, dan belenggu lainnya. (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bukankah kehidupan kita saat ini seperti itu?

Serkah, iri hati, dengki, marah, kecewa, serta khawatir. Dan semuanya dapat dipastikan berurusan dengan dunia benda. Dengan kenyamanan indrawi. Kenyamanan badan. Semuanya berkaitan dengan badan serta perasaan ataupun emosi. Bahkan sedikit sekali kita sadar akan keinginan kita untuk mengetahui pengetahuan sejati, apalagi mau menjalaninya. Pegetahuan sejati adalah kesadaran akan jati diri kita. Diri bukanlah pikiran juga bukan tubuh. Manusia terdiri dari pikiran, tubuh serta jiwa. Silakan pilih sendiri yang mana diri kita sejatinya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 × 4 =

Scroll Up