Terbaik bagi anak BUKAN ‘dari’ anak……

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Terbaik bagi anak

Terbaik bagi anak bukanlah kepintaran kognitif. Kebanyakan dari kita lupa pada pesan penulis lagu Indonesia Raya, WR. Supratman. Dalam lagu Indonesia Raya tertuliskan:….

Bangunlah JIWA nya bangunlah raganya…..

Kebangkitan jiwa berarti kebangkitan sisi kemanusiaan dalam diri seorang anak manusia. Ketika kemanusiaan bangkit, maka ia akan memiliki rasa empati yang tinggi bagi kehidupan, baik manusia maupun lingkungan.

Setelah membaca buku ‘Bringing the Best in the Child’ by Swami Anand Krishna, Anand Krishna Global Co-Operation, www.booksindonesia.com; saya termenung. Dunia mengalami kekacauan karena kita kurang atau bahkan tidal fokus pada upaya membangkitkan kemanusiaan dalam diri anak. Kita hanya fokus membangkitkan yang terbaik dari anak, bukan dalam diri seorang anak.

Tingkat Kebahagiaan

Jika kita melihat hasil survei ini, terbukti bahwa Denmark menjadi negara paling bahagia di dunia. Indonesia nomor 79. Kita semua lupa bahwa tujuan akhir dari sekolah adalah kebahagiaan. Memang kepintaran untuk mencari uang juga perlu. Namun ketika seseorang sudah kaya raya, banyak juga yang tidak bahagia. Dengan kata lain uang bukan atau tidak dapat membeli kebahagiaan. satu hal yang harus diingat bahwa tanpa uang juga kita tidak dapat hidup berkarya di muka bumi.

Kebahagiaan bisa terwujud bila rasa kemanusiaan terbangkitkan dalam diri seorang manusia. Seseorang merasakan kebahagiaan tatkala bisa berbagi dengan orang. Keinginan yang berlebih dan tidak terpenuhi menjadikan sumber penderitaan. Seseorang yang senantiasa meminta tidak merasakan bahagia. Jika seseorang yang bahagia akan terukur level energi berada pada tingkat lebih tinggi daripada yang senantiasa minta dan kekurangan.

Secara otomatis, mereka yang level energinya berada di tingkat atas, tubuhnya menjadi sehat dengan alami. Hanya orang yang memiliki energi lebih yang bisa berbagi. Para master dan avatar memahami pola energi ini. Saat itu terjadi, BUDDHI atau Intelejensia menjadi pemandu dalam kehidupan. Mereka bisa hidup selaras dengan alam semesta. Mereka tuan sekaligus pelayan semesta.

Potensi Utama

Kita akan selalu mengingat para pejuang kemanusiaan seperti Martin Luther King 2, Nelson Mandela, serta Mahatma Gandhi. Banyak orang memuja dan mengagumi perjuangan mereka. Buktinya, banyak orang memberikan nama seperti itu pada anak-anaknya. Namun, apakah ada orang yang bersedia memberikan nama Rahwana ataupun Hitler pada anaknya?

Inilah bukti bahwa sesungguhnya banyak orang mendambakan bangkitnya kemanusiaan dalam diri anaknya. Namun mengapa kita melupakan atau bahkan lebih mengutamakan kepintaran kognitif pada anak kita? Bukan mendambakan kemunculan atau kebangkitan jiwa kemanusiaannya?

Bukankah potensi utama setiap manusia satu dan sama adanya? Keilahian….; inilah yang terbaik bagi anak. Ini pula tujuan utama setiap kelahiran manusia di bumi. Kita lahir di bumi bukan untuk mencari dan mengumpul uang. Toh uang dan seluruh harta benda akan ditinggalkan saat raga sudah berakhir life time nya? Kebergantungan pada alam benda membuktikan kita belunm juga sadar bahwa alam benda bersifat sementara. Mungkinkah kebahagiaan abadi terwujud ketika kita bergantung pada alam benda yang bersifat sementara atau semua????

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × two =

Scroll Up