Tidak perlu menyepi dari keramaian (Bag. 1)

0 Meditasi No Comments

Menyepi

Menyepi berarti menjauhkan diri dari dunia; masyarakat. Banyak orang ingin menjauhkan diri dari dunia/masyarakat agar memperoleh kedamaian diri. Tujuan utama seorang pejalan spiritual atau menjalani laku sebagai meditator adalah tidak terikat pada benda-benda dunia. Yang dicari oleh pejalan spiritual adalah bebas dari keterikatan, bukan menjauhkan diri dari dunia/masyarakat.

Sesungguhnya pemahaman tentang menyepi juga belum seragam atau sama antara bagi mereka yang paham benar dan hanya melihat kulit. Bagi yang benar-benar memahami konsep menyepi tidak akan menjauh dari kebisingan/keramaian dunia. Sebaliknya, mereka yang masih disilaukan oleh materi atau kebendaan akan menganggap bahwa jauh dari dunia ramai akan membantunya.

Tes Kenyaman

Mengikuti trend zaman, seorang “pencari” meninggalkan kenyaman rumah dan keluarga, untuk menyepi dengan hidup di sebuah pertapaan. Dia pikir, dengan hidup di suatu pertapaan, dirinya akan terbebaskan dari kebisingan mind. ‘Boleh saja,’ kata ketua pertapaan itu, ‘asal kamu lulus tes masuk.’

Si pencari sudah siap mental untuk segala macam tes, ‘Saya siap, Pak.’

‘Begini…… Tes pertama, kamu harus bisa hidup dengan makan sekali setiap hari.’

‘Oh, itu gampang pak. Saya memang hanya makan sekali setiap hari.’

That’s good, that’s good. Satu lagi, apakah kamu bisa hidup tanpa televisi, musik, dan hiburan-hiburan lain?’

‘Bisa, Pak. Itu mudah. Saya memang Tidak suka musik. Apalagi televisi – itu kan alat ciptaan setan untuk menggoda manusia.’

‘Betul, betul sekali. Televisi, telepon dan alat-alat lain itu memang ciptaan Setan. Terakhir, bisakah kamu hidup tanpa wanita?’

Tes Wanita

Sang Pencari diam sejenak lalu menjawab, ‘Selama 6 bulan terakhir, memang sudah hidup tanpa wanita. Mantan istri saya adalah seorang pencandu serial teve. Maka saya ceraikan dia.’

‘Bagus sekali. Wanita-wanita itu memang berjiwa lemah. Dirayu sedikit, langsung tergoda. Setan menggoda manusia lewat siaran televisi. tetapi, untuk tes masuk yang ke tiga ini, kamu harus membuktikannya terlebih dahulu.’

Si pencari bertanya, ‘Membuktikan dengan apa, Pak?’

‘Gampang sekali. Burungmu akan digantungi sebuah lonceng kecil. Melihat sepuluh wanita cantik dalam keadaan telanjang bulat, tanpa busana, coba kita lihat, lonceng itu berbunyi atau tidak. Bila berbunyi, kamu gagal. Bila tidak, kamu berhasil.’

Si Pencari pusing, ‘Wah, berat sekali ya……… Tapi tak apa, saya bersedia mencobanya.’

‘Baik Bung, kami menghargai semangatmu. Jangan menyerah. Setan harus ditaklukkan’ kata ketua pertapaan sembari menepuk bahu sang Pencari.

Maka dimulailah tes terakhir……. Si Pencari berdiri tegak lurus, siap diuji. Dalam keadaan telanjang bulat. Lonceng sudah dipasang.

Satu, dua – ting, iting, ting, iting…. Baru dua wanita memasuki ruangan itu, dan lonceng si pencari sudah berbunyi.

‘Gagal, gagal…………kamu gagal. Pertapaan ini tidak bisa menerimamu.

Benarkah si pencari tetap gagal atau ternyata para penghuni yang sudah terlebih dahulu juga bisa gagal?

(Dikutip dari buku Narada Bhakti Sutra by Anand Krishna)

To be continued keseruan tes bagi penghuni……….

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 2 =

Scroll Up