Tidak perlu menyepi dari keramaian (Bag.2)

0 Meditasi No Comments

‘ Tes ini sungguh sulit. Tidak bisa diringankan sedikit?’

‘Diringankan bagaimana? Kamu ingin kami berkompromi dengan Setan? Tidak, tidak mungkin. Tempat ini bukanlah untuk kamu. Kamu dengan – bunyi loncengmu belum berhenti juga. Dengarkan dengan baik, itulah panggilan Setan.’

Sang calon kesal juga, ‘Baik, baik – Saya sedang mendengarkan panggilannya, tetapi bagaimana dengan yang lain-lain? Aku tidak percaya kalau setiap orang di pertapaan ini telah lulus tes?’

‘Nah, itu……. ketidakpercayaanmu karena bisikan Setan pula’ kata boss pertapaan.

‘Berarti mereka ini juga pernah menjalani tes lonceng?’ sang calon masih sulit percaya.

‘Ya, ya….. Tes lonceng. Semua, semua telah menjalaninya’ dengan mengulangi kata ‘semua’, sang ketua seolah ingin meyaäinkan bahwa dirinya pun pernah menjalaninya.

Bertapa di hutan

Si pencari menantang, ‘Apa buktinya, Pak?’

‘Bukti apa yang kau inginkan? Di balik tantanganmu itu, aku mendengar suara Setan. Dan kami di sini siap melawannya.’

Calon pertapa sudah kesal. Sedikit-sedikit dituduh Setan, calo Setan. ‘Ini masalah kimia badan dan reaksi biologis. Kalas begitu, badan manusia dan ilmu biologi pun berasal dari Setan.’ pikir dia. Tetapi Tidak berani mengungkapkannya.

Pada saat yang sama, karenan sudah yakin tak akan diterima, dia menantang kembali, ‘Ya sudah…. Begini saja, kalan memang bisa dibuktikan.. Saya ingin melihat sepuluh anggota pertapaan ini menjalani tes ulang.’

‘Baik, baik, setiap tantangan dari Setan akan kita terima.’

Sepuluh pertapa diberi perintah untuk melepaskan jubah mereka. Kemudian celana kolor… Dan….digantungi lonceng.

All set? On your mark….. dan tes dimulai! Wanita pertama memasuki ruangan itu. Lonceng-lonceng para pertapa Tidak bunyi. Sementara lonceng si calon bunyi lebih keras. Ting, iting, ting, iting, ting, iting, ting, iting………

Si calon merasa malu. Tetapi apa boleh buat? Yang menantang pun dia. Wanita ke tiga, ke empat…….ke sembilan…..Lonceng para pertapa masih bertapa. Sementara lonceng si calon sudah mulai bermeditasi dinamis. Ting, iting, ding, dong, la, la, la……… Begitu keras bunyi loncengnya……sehingga jatuh.

Si calon merasa malu…….. Cepat-cepat dia membungkuk ke depan untuk memungut loncengnya. Dia lupa bahwa dengan membungkuk demikian, dia memantati para pertapa yang sedang menjalani tes…..

Tiba-tiba…….. Ting, iting, ding, dong, la, la, la, ah, ah, ah, ha, ha, ha, he, he, he…….

Ohhhhhhhhhhhh!

Semua lonceng berbunyi.

What happened ?

Ada lonceng yang berbunyi karena melihat bagian depan tubuh wanita. Ada lonceng yang berbunyi karena melihat bagian belakang pria. Apa bedanya? Yang pertama disebut godaan Setan, lalu yang ke dua apa?

Bagian depan wanita dan belakang pria hanyalah pemicu. Yang terpicu ada di dalam diri – mind. Dan selama mind masih eksis, masih utuh, lonceng akan berbunyi terus.

Bunyi lonceng disebabkan oleh sifat-sifat dasar manusia. Mau bebas dari bunyi lonceng, bebaskan dirimu dari sifat dasar itu. Kebebasan tidak dapat diperoleh dengan berpindah tempat atau menyepi.

Anda bokeh berada di tengah keramaian, di tengah sepuluh wanita atau pria telanjang, lonceng tak akan bunyi bila anda sudah bebas dari sifat-sifat dasar itu.

Sebaliknya, seorang pertapa pun akan tetap mendengar bunyi lonceng, bila dia belum bebas. Kemudian, dia hanya beralih dari satu pemicu kepada pemicu yang lain.

Yang menuntut kenikmatan indra adalah mind. Keinginan, keterikatan dan apa yang kita anggap cinta selama ini, semua adalah expressions of mind, ungkapan-ungkapan mind.

Dan sifat-sifat dasar manusia berkaitan dengan mind…….

(Dikutip dari Narada Bhakti Sutra by Anand Krishna)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 + eighteen =

Scroll Up