Yakinlah, Tuhan Maha adil, semua orang berada di surga….

Adalah arogansi golongan tertentu berani mengatakan bahwa hanya yang diyakini oleh golongan atau kaumnya kelak meninggal berada di surga. Arogansi seperti ini justru penjerumusan bagi diri sendiri. Siapa penentu seseorang di surga atau tidak.

Bagi Dia, tiada satu jiwa pun dianggap buruk. Anggapan buruk bahwa orang ini masuk surga atau tidak berasal dari pikiran yang terbatas. Jika kita ambil sinetron atau film dunia ini, Dia adalah Sang Sutradara. Tergantung si manusia sendiri yang menentukan pola hidup di dunia. Mau ciptakan surga yang sama di alam sono atau ciptakan pola hidup yang sama sekali bertentangan dengan kondisi surga aalam sono.

Dia bagaikan raja yang mengundang rakyatnya masuk istana. Tiada seorangpun yang dianggapnya buruk. Ketika yang diundang Sang Raja adalah penjual ikan dan yang lain penjual bunga yang wangi.

Saat si penjual ikan di bawa masuk ke tempat yang penuh keharuman nan wangi, ia akan merasakan tidak nyaman. Baginya bau ikan yang amis itulah bau yang semerbak. Ini karena kondisi lingkungan. Sehingga saat berada di lingkungan nan bersih dan wangi, ia merasa sangat tidak nyaman. Pada akhirnya, ia harus kembali ke tempat asalnya, pedagang ikan.

Lain halnya si penjual bunga. Ia sudah terbiasa hidup di lingkungan bersih dan wangi. Baginya, ketika di tempatkan oleh Sang Raja di lingkungan yang wangi dan bersih bukan lagi kondisi yang asing. Itulah habitatnya. Ia tidak perlu kembali ke tempat asalnya.

Para pemain sinetron atau film pun semestinya tidak terikat perannya. Peran bukanlah watak aslinya. Jangan sampai peran watak saat bermain sinetron mengubah sifat aslinya. Sehingga saat ia tidak lagi bermain, ia tetap dengan sifat aslinya. Suci dan bersih.

Saat hidup di dunia pun diharapkan segala gelar, kekuasaan, kepemilikan harta dunia, dan segala benda dunia mengikat jiwanya. Semua pikirannya tidak terikat pada benda dunia. Jika saat bermain sinetron di panggung dunia, pikirannya terisi oleh hal yang bersifat sementara, jiwanya terpenjara oleh pikirannya yang penuh benda dunia. Sulit bagi sang jiwa untuk bebas lepas.

Akhirnya semua kembali ke diri kita masing – masing. Bisakah kita hidup bagaikan di surga yang berrsih dan nyaman atau memilih hidup seperti pedagang ikan?

Dia akan mengundang siapapun, tanpa memilah keyakinan, kepercayaan, atau agamanya. Bagi Dia, agama, keyakinan, kepercayaan, atau agama hanyalah asesoris yang hanya berlaku di dunia. Keyakinan dan agama bagaikan baju, ke duanya tidak berlaku di surga milik Nya.

Mungkin ada yang membantah, bagaimana denga seorang penjahat? Apakah tidak dihukum? Sangat tergantung pada pikirannya. Bagaikan pemain sinetron yang memerankan penjahat. Jika jiwa tidak berubah sebagai penjahat saat tidak lagi bermain sinetron, ia bisa bebas pula. Sama sekali tidak ada urusan bagi Tuhan. Jadi penjahat pun atas perintah sutradara.

Sepertinya jadi orang baik di dunia sebagai peran. Namun jika dalam pikirannya penuh dengan arogansi dan ketamakan, ia tidak lolos juga di surga alam sono. Semua sangat tergantung pikiran sendiri.

So, hanya pembenahan diri sendiri yang diperlukan. Tidak perlu melihat si A, B, dan lain sebagainya. Biasakan hidup dengan pikiran yang bersih dan bebas dari keterikatan dunia, maka kondisi alam surga di sono pun sudah di jalani. Saat di panggil oleh Sang Raja, ia sudah terbiasa di lingkungan bersih dan wangi….

Ahhh……..dunia ilusi…

Setiap insan memiliki peran yang sama….

Bebaskan diri dari jebakan pikiran duniawi….

Mind kita di hack mayoritas….