Dahulu ketika era Budha berkembang di India, masyarakatnya tidak maju. Bahkan ada kecendrungan masyarakat yang banyak menganut agama Budha menolak untuk berperang. Dalam sejarah, ada suatu negara yang pernah tidak path perintah rajanya untuk berperang mempertahankan negara dari serangan musuh. Mereka menganggap bahwa hidup harus welas asih. Mereka tidak perduli, walau negaranya dijajah. Ini tindakan yang benar menurut aliran Budha tetapi tidak tepat bagi kedaulatan negara.

Negara yang mayoritas rakyatnya begitu mempertuankan keyakinan atau kepercayaannya, akan sulit menuju era kemajuan. Lebih-lebih lagi bila keyakianan yang dianutnya dianggap paling baik. Keyakinan atau kepercayaan yang mengutamakan ada hal-hal yang bisa dan tidak dilakukan atau dengan kata lain banyak larangan, apalagi dilarang bahwa bila tidak patuh akan dihukum, maka dapat dipastikan akan mengkerutkan otak. Cara ini lebih dikenal berlandaskan doktrin berlandaskan unsur ketakutan atau ‘FEAR BASED’.

Buku Meditasi dan Yoga Terbaik

  • Dapatkan Buku Meditasi Terbaik Untuk Pemula [Beli Buku]
  • Dapatkan Buku Yoga Terbaik Untuk Pemula [Beli Buku]
  • Dapatkan Buku Yoga Sutra Patanjali [Beli Buku]

Dengan mengedepankan unsur ketakutan untuk melarang orang agar tidak berbuat buruk kalau tetap melakukan akan dihukum, sesungguhnya kita belum memahami cara kerja otak. Bila hal ini dilakukan terus menerus, kita membentuk sinap-sinap baru yang pada akhirnya membuat otak mengkerut alias tidak berkembang. Mereka yang pintar memahami kerja otak, akan menggunakan cara-cara ini secara terus menerus dengan tujuan bangsa ini tidak maju.

Hal lain adalah ketika bangsa tersebut ditarik dari akar budayanya. Akar budaya adalah sesuatu yang telah melekat pada DNA. Negeri kita nusantara merupakan pusat peradaban. Peradaban yang sadar bahwa ada ketergantungan hidup pada alam. Berrarei hidup harus selaras dan harmoni dengan alam.  Bahkan menurut hasil penelitian paling akhir membuktikan bahwa adanya banjir besar 14.000 tahun yang lalu di wilayah ini telah membuat penghuninya melakukan imigrasi besar-besaran ke utara.

Banyak peninggalan yang membuktikan bahwa leluhur kita merupakan bangsa yang unggul. Sebagai contoh sederhana. Keris yang saat ini dikenal di pulau Jawa terdiri dari titanium. Keris adalah tempaan dari beberapa macam logam. Titanium yang digunakan sebagai bahan pesawat terbang telah kita temukan terlebih dahulu.

Ujaran-ujaran kuno yang turun temurun diwariskan mengandung nilai-nilai luhur yang membuat kita sadar akan jati diri kita. Ujaran kuno berlandaskan pada pemahaman yang selalu dikaitkan dengan kepentingan umum. Misanya ‘Urip iku Urup‘. Sedangkan pada keyakinan berlandaskan ¬†FEAR BASED banyak larangan tanpa alasan. Kata ‘Pokok nya…’ menjadi ujaran yang sering ditanamkan. Rasa takut menurut yang ditanamkan terus menerus membuat otak kita mengkerut.

Secara alami, seseorang yang terus menerus dikendalikan rasa takut menjadi minder serta tidak percaya diri. Tidak terjadi perluasan atau perkembangan pada pemikiran. Bila diperhatikan cara pembelajaran di sekolah kita demikian pula. Harus menghafal ini dan itu tanpa dilandasi pengembangan. Saya ingat yang disampaikan oleh WR. Supratman dalam lagu Indonesia Raya: ‘Bangunlah jiwanya Bangunlah raganya…..’

Dengan cara pengajaran berlandaskan FEAR BASED, tidak ada pembangunan jiwa. Ketakutan berasal dari kesadaran secara fisik. Pikiran yang takut terjadi bila fisik terancam. Jiwa tidak pernah bisa terancam karena jiwa bersifat tidak terbatas.

Ketakutan untuk mengembangkan pendapat atau berpikir terjadi secara alami atau otomatis bila unsur ajaran berlandaskan FEAR BASED terus menerus ditanamkan. Dengan sendirinya mereka terkungkung dalam tembok ketakutan. Perhatikan mereka yang senang menonton film horor. Tanpa sadar mereka mengembangkan rasa tidak percaya diri. Mereka sedang mendorong otaknya mengkerut. Synap-synap tidak berkembang…

Mohon maaf, sekedar berbagi hasil renungan,,,,