Makna Qurban 

Makna qurban berarti persembahan. Tiada yang lebih bernilai mulia selain mempersembahkan ego. Menafikan ego sebagai persembahan tertinggi selaras dengan tujuan kelahiran. Penyatuan atau kemanunggalan tidak akan terwujud selama ego masih eksis. Inilah yang disebut hijab atau penghalang.

Qurban akan lebih mulia bila diartikan mengorbankan kehewanian atau sifat hewaniah dalam diri manusia. Keserakahan, kerakusan, sifat ingin benar/menang sendiri, nafsu birahi tanpa terkendali sehingga menjadikan manusia sebagai penyebab penderitaan sesama serta lingkungan.

Buku Meditasi dan Yoga Terbaik

  • Dapatkan Buku Meditasi Terbaik Untuk Pemula [Beli Buku]
  • Dapatkan Buku Yoga Terbaik Untuk Pemula [Beli Buku]
  • Dapatkan Buku Yoga Sutra Patanjali [Beli Buku]

Selama ini kita mencari pembenaran mengurbankan sesama makhluk hidup demi mendapatkan pujian dan sanjungan. Namun lupa tujuan persembahan diri sebagai landasan penyatuan pada Sang Maha Tunggal. Dia tidak butuh persembahan, yang butuh penafikan diri adalah manusia demi kemuliaan diri sendiri.

Renungan Riwayat Qurban

Konon kisahnya, Abraham mendapatkan perintah Tuhan untuk menyerahkan anaknya sebagai persembahan. Anak adalah milik paling berharga, bahkan kadang lebih berharga dari dirinya sendiri. Banyak kisah membuktikan bahwa orang tua rela mengorbankan dirinya, asalkan anaknya selamat. Dengan kata lain, Tuhan minta pada Abraham mempersembahkan ego. Ego adalah identitas diri saat di dunia.

Ketika akan dikurbankan, Tuhan melihat ketulusan Abraham. Karena dalam kisah dikatakan bahwa betapa sulitnya mendapatkan anak. Kalau tidak salah, anak yang didapatkan ketika itu juga pada usia yang cukup tua. Dengan demikian, bukankah anak menjadi permata yang sangat berharga?

Kerelaan untuk mempersembahkan seorang anak sebagai permata yang sangat berharga menjadi bukti Abraham bersedia mempersembahkan egonya. Bukankah ego ini yang selama ini kita agungkan?

Pada saat tiba waktu persembahan, pisau sudah di tangan untuk menyembelih, tiba-tiba Tuhan menggantikan anak dengan kambing. So, yang menjadi tekanan adalah bahwa adalah kewenangan atau hak Tuhan menggantikan. Bukan si manusia, dalam hal ini Abraham sebagai wakil dari manusia, memilih hewan untuk dikurbankan.

Tujuan dari Tuhan adalah meminta persembahan ego manusia. Ego manusia berarti sifat hewaniah yang ada dalam diri kita semua. Dan bila hal tersebut bisa kita lakukan, kita menjadi makhluk mulia. (Renungan ini saya terinspirasi dari seorang teman. Terima kasih kawan)

Tujuan Kelahiran

Dengan menggantikan anak Abraham berarti Tuhan bertujuan agar manusia membunuh egonya sehingga menjadi semulia Tuhan. Kata manusia terdiri dari 2 suku kata; ‘Manas‘ yang berarti pikiran, dan ‘Isya’ yang berarti Tuhan/Isya. Dengan matinya mind¬†atau pikiran yang eksis tnggal kata ‘Isya‘, Tuhan. Lebih lengkap, silakan baca ini.

Tuhan yang terjebak dalam pikiran manusia. Bukan manusia yang terjebak dalam Tuhan. Tuhan dengan baju tubuh manusia. Sang Jiwa mulia. Inilah jati diri sesungguhnya. Membunuh ego atau dengan kata lain melakukan transformasi intelektual menjadi intelejensia. Tujuan keberadaan manusia di bumi.

Adalah sepanjang manusia hidup untuk selalu berupaya membunuh nafsu hewaniah dalam dirinya sehingga yang ada sifat kasih yang mulia.

Dan ketika kita manusia menentukan memilih hewan sebagai kurban, sesungguhnya kita senang memelihara sifat hewaniah dalam diri kita. Adalah pilihan kita, memilih untuk tetap memelihara sifat hewaniah atau ketersersediaan mengorbankan sifat kehewanian agar menjadi makhluk mulia.