Awan tebal kebingungan

Awan tebal kebingungan adalah kiasan bagi pikiran yang masih berada pada awan. Bila kita amati languit, kita bisa melihat bahwa gugusan awan selalu berubah. Selalu berpindah. Seperti itulah pikiran kita. Tidak satupun pikiran yang abadi bagaikan benda di buoi ini yang senantiasa berubah.

Melampaui pandangan awan, kita bisa melihat languit biru yang itupun ada karena keterbatasan pandangan kita. Langit biru selalu ada. Itulah kesadaran sejati yang tidak akan berubah. Awan ada atau tidak, langit sebagai bagian yang tidak pernah tidak ada, sebagai layar bagi penampakan awan.

Buku Meditasi dan Yoga Terbaik

  • Dapatkan Buku Meditasi Terbaik Untuk Pemula [Beli Buku]
  • Dapatkan Buku Yoga Terbaik Untuk Pemula [Beli Buku]
  • Dapatkan Buku Yoga Sutra Patanjali [Beli Buku]

Bila alam pikiran kita melekat pada awan yang senantiasa berubah, kita akan terombang-ambingkan seperti awan. Suka duka adalah alam pikiran awan yang selalu berubah. Banyak orang berkata bahwa kita tidak bisa melampaui kesadaran alam pikiran, atau awan pikiran. Namun ini hanya berlaku bagi mereka yang tidak mau menyelam ke dalam diri. Ini juga karena pandangan mata kita selalu terbuka hanya melihat alam benda yang berubah terus.

Sesat

Dalam buku Bhagavad Gita by Svami Anand Krishna, www.booksindonesia.com menyebutkan:

‘Ketika kesadaran telah melampaui awan tebal kebingungan yang bersifat ilusif, maka kau menjadi tawar, tidak lagi peduli pada segala apa yang pernah dan akan kau dengarkan (sebab semua itu hanya pengetahuan belaka. Sementara kesadaran adalah pengalaman).’¬†

Kita tersesat karena berada pada awan kebingungan. Namun seringkali mereka yang masih pada kesadaran massa atau masih di bawah pengaruh pendapat mayoritas mengatakan bahwa orang yang pada kesadaran langit adalah bagana orang sesat. Kita lupa bahwa apa yang kita ucapkan merupakan cerminan yang ada dalam pikiran kita. Kita tidak akan bisa mengucapkan kata yang tidal ada dalam perbendaharaan milk kita.

Rasa takut bahwa kita akan ditinggalkan oleh banyak teman membuat kita tidak berani mengungkapkan diri. Bagi para suci, kesadaran jiwa adalah pengalaman pribadi yang sangat amat sulit diungkapkan. Namun pengalaman ini membuatnya memiliki keberanian untuk melawan pendapat massa yang sesungguhnya juga dikatakan sedang sakit. Bagi jiwa yang mengalami kesadaran, kelompok orang sakit tidak membuat dirinya nyaman. Ia akan menderita bergaul dengan yang sakit, ini sebabnya ia dikatakan aneh atau sesat. Yang sangat perlu dicatat dan diingat adalah waspada dan tijdvak kehilangan akal sehat.

Tipuan Ego

Dalam ranah ini kita sering terjebak. Merasa sudah berada pada kesadaran langit, kemudian merasa hebat. Kita tidak sadar bahwa ‘merasa hebat’ juga menjadi penyakit. Kita lupa bahwa saat ‘merasa berbeda’ akan menarik kesadaran kita ke bawah menuju ke alam penderitaan. Inilah tipuan EGO.

Mereka yang sudah menggapai kesadaran langit tidak akan mengatakan bahwa dirinya sudah sadar. Keinginan untuk mengatakan adalah bentuk arogansi. Ini juga tipuan ego. Sama halnya bila kita ingin ke suatu tempat. Dan ketika kita tiba di tempat tersebut, tentu kita tidak akan berkata pada desama teman yang berada di tempat tersebut bahwa kita sudah di tempat tersebut.

Dan bila kita berteriak pada mereka yang belum berada di tempat tersebut berarti suatu bentuk kesombongan diri. Inilah bentuk ego….

Ketika kita bisa melampaui awan tebal kebingungan, tidak ada lags Aku karena tidak ada lagi perbedaan, telah menyatu dalam langit. Tidak ada lagi keterpisahan..

So, lakoni hidup sebagai bagian dari sinetron kehidupan. Ingat, merasa hebat atau berbeda membuat kita hidup menderita….