oleh Marhento | Feb 4, 2016 | Ayur Hypnotherapy, Filsafat, Meditasi, Pengembangan Diri
Banyak orang yang ketika sedang duduk diam dan bermain game berkata bahwa ia sedang membunuh waktu. Demikia pula ketika seseorang berjalan-jalan di mall. Minum di cafe dan pekerjaan lainnya yang sesungguhnya tidak bermanfaat. Mereka anggap itu semuanya untuk membunuh...
oleh Marhento | Feb 3, 2016 | Ayur Hypnotherapy, Filsafat, Meditasi, Pengembangan Diri
Pernyataan yang seringkali diucapkan oleh mereka yang ingin melakoni perjalanan spritual Banyak dari mereka yang menyatakan bahwa ketika duduk hening atau silent sittingĀ ‘merasa’ mengalami kekosongan. Menurut pendapat mereka, pengalaman ini dikatakan bahwa...
oleh Marhento | Feb 3, 2016 | Ayur Hypnotherapy, Filsafat, Inspirasi, Meditasi, Pengembangan Diri
Sadguru adalah guru sejati. Guru berarti seseorang yang mengusir kegelapan, ketidaktahuan. Seorang Guru sejati tidak akan memperbudak muridnya. Ia tidak berkepentingan mencari pengikut atau massa. Murid bermakna ‘murad’. Seseorang yang memiliki tujuan...
oleh Marhento | Feb 3, 2016 | Ayur Hypnotherapy, Filsafat, Meditasi, Pengembangan Diri
Itulah kenyataan hidup atau kehidupan. Seseorang lahir, sekolah, bekerja mencari uang, menikah, belirumah, dan kemudian beli mobil serta segala pernak-pernik bergaul. Pujian dunia pun mengalir. Mengatakan bahwa dirinya telah berhasil dalam hidup. Inilah definisi...
oleh Marhento | Jan 29, 2016 | Ayur Hypnotherapy, Filsafat, Kesehatan, Meditasi, Pengembangan Diri
Banyak teori tentang kemanunggalan. Manunggaling kawulo-gusti. Seakan seseorang yang sudah bisa atau mencapai tahap manunggaling-kawulo gusti sudah hebat. Boleh saja dikatakan hebat, tetapi hebat yang bagaimana? Apakah ketika seseorang bisa mengangkat beban sekian ton...
oleh Marhento | Jan 28, 2016 | Ayur Hypnotherapy, Filsafat, Kesehatan, Meditasi
Melayani manusia berarti hanya manusia yang dilayani. Mereka yang melayani umat manusia. Apalagi jika didefinisikan lebih sempit, umat manusia yang sama keyakinan atau kepercayaannya, lebih parah lagi. Inilah sebabnya dalam sila ke dua dalam Pancasila disebutkan...