Saya pernah menuliskan hal sama. Silahkan baca ini. Tidak usah menunggu orang lain untuk menganggap kita Tuhan. Sebaliknya, jika kita meminta pada orang lain mengakui diri kita sebagai Tuhan adalah keliru besar. Amat sangat besar. Disamping itu, ini tindakan bodoh. Amat sangat bodoh. Mengapa?

Saat kita meminta orang lain mengakui diri kita sebagai Tuhan membuktikan bahwa kita tidak memiliki keyakinan atau kepercayaan hal tersebut. Ini karena kita dibawah pengaruh orang lain. Masih menjadi budak orang lain. Belum mandiri. Dengan kata lain sesungguhnya kita belum sadar akan jati diri kita. Kita bahkan tidak percaya pada kata para suci yang dituliskan pada kitab yang kita anggap suci: ‘Tuhan lebih dekat dari urat lehermu” Artinya tidak ada keterpisahan antara ke duanya. Baik secara fisik ataupun non-fisik.

Buku Meditasi dan Yoga Terbaik

  • Dapatkan Buku Meditasi Terbaik Untuk Pemula [Beli Buku]
  • Dapatkan Buku Yoga Terbaik Untuk Pemula [Beli Buku]
  • Dapatkan Buku Yoga Sutra Patanjali [Beli Buku]

Dan selama kita masih menganggap Tuhan sebagai sosok yang bisa dikenali oleh kasat mata, kita belum kenal Dia yang Maha Halus. Dia merupakan sifat, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa kita Tuhan tetapi belum mengenali dan melakoni sifat Tuhan?

Sebelumnya, kita harus tahu bahwa saat kita minta pengakuan dari orang lain, kita masih pada tataran atau ranah mind atau intelektual. Platform intelektual berlandaskan dualitas. Berlandaskan untung rugi. Yang bisa merasakan untung dan rugi jika kita masih berpijak pada ranah duniawi. Kita menganggap pengakuan orang lain amat hebat. Dengan kata lain, kita merasa bisa menindas orang lain atau sesama makhluk. Ini jelas bukan sifat alam atau sifat Ilahi. Hebatnya, selama masih pada tataran mind, kita terus menerus menderita. Dan lagi, sifat mind menuju arah penderitaan. Pastinya tidak ada yang mau menderita……

Oleh karenanya, mari kita naikkan level kita ke tataran Ilahi. Hanya kita sendiri yang bisa melakukan uplifting ini. Bukan orang lain. Memang bisa dan mudah?

Bisa, pastinya. Mudah? Tidak juga. Karena kita harus lepas landas dari tataran pikiran atau ego. Selama kita masih pada tataran mind, ┬ákita sedang dalam alam neraka. Jelas bukan Tuhan jika masih di neraka. Walaupun juga bahwa Tuhan tidak bakal ada di surga. Kehadiran Nya lebih dibutuhkan di neraka daripada surga. Oleh karenanya, selama kita belum menyadari keilahian atau ketuhanan diri kita kita menderita terus. Inilah konsep neraka dalam benak kita. Penderitaan…..

Sifat alam adalah sifat Tuhan. Sifat KASIH. Kasih, versi kata Indonesia,  berarti berbagi atau memberi. So, jika kita mau tahu; Apakah kita sudah jadi Tuhan atau belum, kita kenali kelakuan kita.

Jika kita masih berpikir untuk menjajah atau menguasai orang lain dalam bentuk tindak kekerasan, kita belum manggapai tataran Ketuhanan atau keilahian Diri.

Ketika kita masih suka memecah belah persatuan untuk keuntungan diri sendiri berarti kita masih pada tingkat pikiran atau perasaan.

Ketika kita masih suka menyembah kenyamanan tubuh atau panca indra, kita masih pada tingkat bukan kesadaran jiwa.

Kenali keilahian diri melalui cara berpikir berucap serta bertindak. Jika pikiran, ucapan serta tindakan kita senantiasa melantunkan persatuan serta kesatuan umat manusia, serta mencanangkan pola pikir demi kebahagiaan atau kesejahteraan orang banyak, kita sudah pada tahap Keilahian diri. Cara berpikir yang terbukan dan menuju kesataun serta persatuan alam semesta……..